Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 November 2025 | 16.05 WIB

Standar Kecantikan di Bawah Sorotan: Bahaya Pemutih Kulit, Dampak Psikologis, dan Jejak Kolonial

Ilustrasu klien klinik kecantikan kini meminta wajah seperti versi ‘filter AI’ mereka sendiri, fenomena ini dikenal sebagai ‘filter dysmorphia’ (The Times of India) - Image

Ilustrasu klien klinik kecantikan kini meminta wajah seperti versi ‘filter AI’ mereka sendiri, fenomena ini dikenal sebagai ‘filter dysmorphia’ (The Times of India)

JawaPos.com - Isu mengenai standar kecantikan kembali mencuat setelah berbagai laporan internasional menyoroti dampaknya yang luas, mulai dari masalah kesehatan hingga tekanan psikologis. Praktik pemutihan kulit, penyempitan standar kecantikan di industri mode, dan pengaruh teknologi digital menjadi sorotan utama.

Dilansir dari laporan European Environmental Bureau (EBB), pasar produk pemutih kulit masih tumbuh besar di banyak negara. EEB menyebut bahwa anggapan bahwa kulit cerah lebih menarik dan dihargai merupakan jejak panjang dari konstruksi kolonial yang hingga kini masih mempengaruhi persepsi publik.

Produk pemutih yang beredar pun bukan tanpa resiko, sebagian mengandung bahan kimia keras seperti merkuri dan hidrokuinon yang berpotensi merusak organ tubuh dan meracuni lingkungan melalui limbah rumah tangga.Environmental Health News (EHN) turut menegaskan bahwa kelompok berkulit gelap dan komunitas minoritas menjadi pihak yang paling rentan terhadap paparan zat berbahaya dalam produk kosmetik.

Menurut laporan EHN, standar kecantikan yang memuliakan kulit terang tidak hanya menekan secara sosial, tetapi juga membuka jalan pada ketidakadilan kesehatan, karena tingginya konsumsi produk berbahaya di segmen masyarakat tertentu. Sejumlah gerakan masyarakat seperti “Dark is Beautiful” dan “Dark is Divine” pun muncul sebagai bentuk penolakan terhadap diskriminasi berbasis warna kulit.

Sementara itu, tekanan kecantikan kian rumit di era media sosial. Times of India melaporkan bahwa penggunaan filter berbasis AI telah menciptakan tren baru, banyak orang merasa penampilan asli mereka tidak lagi cukup baik, sehingga berusaha menyesuaikan diri dengan versi digital yang sudah dimodifikasi. Kondisi ini, yang dikenal sebagai “filter dysmorphia”, disebut para ahli dapat memicu keinginan berlebihan untuk menjalani prosedur bedah estetik dan menurunkan rasa percaya diri.

Pada ranah fashion internasional, keberagaman yang sempat menguat justru mulai surut. Le Monde mengungkap bahwa beberapa agensi model kembali lebih memilih wajah-wajah berkulit terang dan bertampang Eropa. Praktik ini dipandang sebagai langkah mundur dari upaya inklusivitas yang sebelumnya disuarakan industri mode, sekaligus mencerminkan bagaimana tren pasar dapat mempengaruhi keputusan para pelaku industri.

The Guardian menambahkan bahwa jejak kolonial masih sangat terasa dalam pola konsumsi dan produksi industri kecantikan global. Menurut laporan tersebut, nilai-nilai yang menjunjung kulit cerah sebagai standar ideal masih dijadikan acuan oleh banyak perusahaan, meskipun telah muncul kritik terhadap bahan berbahaya dalam produk pemutih. Para pegiat kesehatan dan aktivis sosial menilai perlu adanya pengawasan lebih tegas dan edukasi publik terkait bahaya standar kecantikan sempit ini.

Melihat kompleksitas masalah yang muncul dari isu kesehatan, representasi, hingga dampak psikologis para ahli menilai bahwa standar kecantikan perlu ditinjau ulang secara menyeluruh. Transformasi tidak hanya memerlukan regulasi ketat, tetapi juga perubahan sosial yang mendorong penerimaan terhadap keragaman bentuk, warna, dan identitas. Industri kecantikan global diharapkan dapat bergerak menuju paradigma yang lebih sehat, inklusif, dan bertanggung jawab. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore