Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Oktober 2025 | 19.51 WIB

9 Pelajaran Hidup Terlupakan dari Era 60-70an yang Membentuk Generasi Lebih Tangguh dan Mandiri

ilustrasi sekelompok anak sedang bermain tanpa pengawasan di luar rumah saat senja, menggambarkan kebebasan dan kemandirian anak-anak era 60-70an./Freepik - Image

ilustrasi sekelompok anak sedang bermain tanpa pengawasan di luar rumah saat senja, menggambarkan kebebasan dan kemandirian anak-anak era 60-70an./Freepik

JawaPos.com - Generasi yang dibesarkan pada era 1960-an dan 1970-an seringkali memiliki ketangguhan mental serta keterampilan hidup praktis yang tampaknya mulai memudar di masa kini.

Pola asuh dan lingkungan sosial saat itu mendorong anak-anak untuk menghadapi masalah secara langsung, tidak selalu mengandalkan pihak luar untuk menyelesaikannya.

Ada sembilan pelajaran hidup yang terlupakan dari era tersebut, yang dianggap telah membentuk generasi sebelumnya menjadi individu yang lebih kuat dan mandiri, melansir dari Global English Editing Senin (27/10).

Pelajaran berharga ini perlu digali kembali untuk membantu generasi saat ini agar memiliki kemampuan adaptasi dan resiliensi yang lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup.

1. Jangan Memanggil Pihak Berwenang Kecuali Ada Darurat Nyata

Dahulu, anak-anak diajarkan bahwa otoritas seperti polisi, dokter, atau guru, hanya boleh dilibatkan jika situasinya benar-benar darurat atau di luar kemampuan mereka. Hal ini menanamkan pola pikir untuk berusaha mengatasi masalah kecil sehari-hari terlebih dahulu dengan sumber daya yang dimiliki. Konsep ini mengajarkan pentingnya kemampuan memecahkan masalah sendiri sebelum mencari intervensi dari pihak luar.

2. Masalah Antar Anak Diselesaikan Sendiri (Tanpa Mediasi Orang Dewasa)

Jika ada pertengkaran atau perselisihan antar teman, orang tua biasanya tidak akan langsung turun tangan untuk menyelesaikannya. Anak-anak didorong untuk belajar bernegosiasi, berdamai, atau bahkan bertengkar hingga menemukan solusi mereka sendiri. Proses ini mengajarkan keterampilan sosial yang krusial, seperti mengelola konflik, menemukan kompromi, dan belajar berinteraksi dengan dunia nyata yang keras.

3. Semua Anak Membantu Pekerjaan Rumah Tanpa Bayaran

Bekerja di rumah, seperti membersihkan, memasak, atau merawat kebun, adalah kewajiban yang harus dilakukan semua anggota keluarga tanpa harus diberi uang saku tambahan. Anak-anak memahami bahwa mereka satu di antara bagian dari tim keluarga yang harus bekerja sama untuk menjaga rumah tetap berjalan dengan baik. Pelajaran ini menumbuhkan etos kerja, rasa tanggung jawab, dan penghargaan terhadap kerja keras orang tua tanpa berharap imbalan.

4. Uang Tidak Tumbuh di Pohon (Belajar Berhemat dengan Keras)

Keluarga pada era tersebut sangat terbuka mengenai keterbatasan keuangan, sehingga anak-anak belajar menghargai setiap pengeluaran. Anak-anak harus menabung dan bekerja paruh waktu jika ingin membeli sesuatu yang diinginkan di luar kebutuhan pokok yang dipenuhi orang tua. Ini mengajarkan disiplin finansial sejak dini, di mana keinginan tidak selalu bisa dipenuhi secara instan.

5. Rasa Tidak Nyaman Adalah Bagian dari Hidup

Saat musim panas tiba dan cuaca terasa panas, tidak ada yang mengeluh karena AC bukanlah barang yang umum di setiap rumah, jadi anak-anak belajar beradaptasi. Rasa bosan atau tidak nyaman adalah bagian normal dari kehidupan yang harus diterima, bukan masalah besar yang perlu segera diatasi oleh orang dewasa. Hal ini membangun resiliensi mental dan kemampuan menoleransi frustrasi, yang sangat penting untuk ketahanan hidup.

6. Tidak Ada Jadwal Terstruktur Setelah Sekolah

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore