Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Agustus 2025 | 15.23 WIB

Emotional Burnout di Kalangan Gen Z: Antara Ekspektasi Sosial, Kehilangan Energi, dan Identitas Diri

Generasi Z menghadapi fenomena burnout akibat tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan tuntutan karier yang terus meningkat

JawaPos.com – Emotional burnout semakin menjadi perhatian serius, terutama di kalangan Generasi Z. Siapa yang paling rentan mengalaminya?

Generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini disebut menghadapi tekanan lebih berat dibanding generasi sebelumnya. Kapan fenomena ini mulai mencuat? Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah pandemi, kasus burnout dilaporkan meningkat pesat di dunia akademik maupun dunia kerja.

Fenomena ini muncul di mana saja, mulai dari lingkungan kampus, tempat kerja, hingga kehidupan sosial digital. Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Universitas Bina Nusantara (2024), burnout di kalangan Gen Z berakar pada ambisi tinggi dan ekspektasi besar, baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Tekanan untuk selalu berprestasi membuat mereka rentan kehilangan arah dan identitas diri.

Apa yang dimaksud dengan burnout pada Gen Z?

Burnout adalah kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat tuntutan yang berlebihan. Gejalanya meliputi rasa lelah berkepanjangan, menurunnya motivasi, hingga perasaan terasing dari lingkungan. ResearchGate (2024) mencatat, kasus burnout di kalangan Gen Z semakin meningkat di dunia kerja, terutama karena jam kerja panjang, kurangnya work-life balance, serta budaya hustle yang masih dominan.

Mengapa Gen Z sangat rentan?

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Ekobis Unissula (2023) menegaskan bahwa Gen Z cenderung menetapkan standar tinggi terhadap dirinya sendiri. Di sisi lain, paparan media sosial membuat mereka terus membandingkan diri dengan orang lain. Alhasil, muncul rasa cemas, tidak cukup baik, dan sulit puas.

Tekanan juga datang dari dunia pendidikan. Artikel dalam Jurnal Ilmiah Inovasi Pendidikan (2023) menyebutkan bahwa mahasiswa Gen Z banyak mengalami stress akademik, mulai dari tugas yang menumpuk, persaingan ketat, hingga tuntutan untuk segera sukses. Kondisi ini berkontribusi langsung terhadap meningkatnya risiko burnout.

Menurut data Journal Sadewa (2024), lebih dari 60 persen mahasiswa Gen Z yang diteliti mengaku mengalami gejala burnout ringan hingga sedang. Bahkan, sekitar 25 persen di antaranya berada pada kategori burnout berat yang membutuhkan intervensi profesional. Angka ini menunjukkan bahwa masalah burnout bukan sekadar isu sepele, tetapi fenomena nyata yang perlu diperhatikan bersama.

Bagaimana dampaknya terhadap keseharian?

Burnout tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Generasi Z yang mengalami burnout cenderung lebih mudah merasa putus asa, sulit fokus, dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Penelitian di Lintar Untar (2022) menambahkan bahwa burnout berkorelasi dengan meningkatnya risiko depresi, gangguan kecemasan, hingga keinginan untuk menarik diri dari lingkungan sosial.

Psikolog klinis juga menyoroti dampak jangka panjang. Jika tidak ditangani, burnout bisa menurunkan performa kerja, mengganggu hubungan sosial, hingga memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. "Gen Z adalah generasi yang dinamis, kreatif, dan adaptif. Namun, jika tekanan dibiarkan tanpa ruang pemulihan, potensi besar mereka justru bisa terkikis," ujar salah satu psikolog dalam laporan BINUS (2024).

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore