Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Agustus 2025 | 00.48 WIB

Bingung Menghadapi Pasangan dengan Kecenderungan Avoidant? Lakukan Cara Ini Agar Hubungan dan Mentalmu Tetap Sehat

Ilustrasi Kepribadian Avoidant yang Menarik Diri Secara Emosional.

JawaPos.com – Istilah avoidant attachment style dikenal sebagai pola hubungan keterikatan di mana penderitanya suka menarik diri secara emosional.

Orang yang memiliki kecenderungan avoidant biasanya menghindari kedekatan yang intens seolah tidak ingin berhubungan dengan orang lain atau pasangannya.

Dikutip dari ashefagriyapusaka.co.id, kepribadian avoidant dapat dipicu oleh pola asuh orang tua, lingkungan, atau pengalaman masa lalu yang membuat mereka merasa kedekatan emosional berlebih dapat menjadi sumber luka dan ketidaknyamanan.

Dilansir dari akun TikTok @ogestm yang mengunggah perspektif avoidant, reaksi menjauh yang sering dilakukan penderita avoidant disebabkan oleh kondisi kepala dan hati yang berisik sehingga kesulitan untuk menjelaskan hal yang mereka rasakan.

Orang yang menjalin hubungan dengan avoidant biasanya merasa kesulitan dalam memahami pasangannya. Bahkan hal tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak dicintai.

Berikut cara khusus untuk kamu yang ingin melanjutkan hubungan dengan seorang penderita avoidant agar mental dan hubunganmu tetap sehat:

  1. Kenali Attachment Style Diri Sendiri

Sebelum berusaha memahami kondisi mental pasangan, kamu perlu mengatahui gaya attachment-mu sendiri karena akan memengaruhi pola interaksi dalam hubunga

Jika kamu seorang anxious yang membutuhkan koneksi emosional kuat, kamu akan merasa cemas ketika seorang avoidant menjaga jarak. Hal tersebut lama kelamaan akan membuat hubungan terasa tidak sehat.

Setelah mengetahui attachment style-mu, lakukan self-regulation untuk menenangkan diri dan jangan terlalu bergantung pada pasangan, hal tersebut dapat membuat kamu semakin cemas.

Ketika sudah merasa lebih tenang, bicarakan perbedaan attachment style kepada pasangan tanpa memberikan tuntukan yang berlebihan.

  1. Keloka Emosi

Sebelum memulai komunikasi dengan seorang avoidant, pastikan dirimu berada dalam keadaan tenang. Hal tersebut diperlukan karena penderita avoidant cenderung merasa tertekan ketika menghadapi emosional yang intens, seperti tangisan, amarah, atau tuntutan berlebihan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore