Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Juni 2025 | 01.54 WIB

Bukan Kontrol Melainkan Rasa Bersalah, Intip 10 Cara Orang Melakukan Manipulasi dengan Taktik Playing Victim

Ilustrasi. (Pexels) - Image

Ilustrasi. (Pexels)

JawaPos.com - Kebanyakan orang membayangkan manipulasi sebagai sesuatu yang dramatis dan jelas terlihat layaknya seorang dalang yang menarik tali bonekanya. Tapi bentuk manipulasi yang paling umum justru lebih halus. 

Ia menyelinap masuk, membungkus dirinya dalam bentuk perhatian, dan menyeret kamu pelan-pelan lewat rasa bersalah.

Tahu-tahu kamu meminta maaf padahal tak melakukan kesalahan apa pun. Setuju dengan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan keinginanmu. Dan mulai bertanya-tanya bagaimana kamu bisa berubah menjadi tokoh jahat dalam cerita orang lain.

Kalau situasi ini terdengar familiar, kamu tidak sendiri. Rasa bersalah adalah titik tekanan yang sangat universal. Begitu seseorang tahu cara menekannya, logika dan akal sehat bisa langsung menguap.

Dilansir dari VegOut, berikut adalah 10 tanda manipulasi berbasis rasa bersalah yang sering luput dikenali. Semakin cepat kamu bisa menyadarinya, semakin besar peluang untuk keluar dari pusaran emosi sebelum kamu terjebak terlalu dalam.

1. Mengubah batasanmu jadi bukti bahwa kamu egois

Kalimat sederhana seperti “Aku nggak bisa” tiba-tiba dibalas dengan, “Jadi kamu nggak cukup peduli untuk bantu aku?”

Manipulasi jenis ini memutarbalikkan batasan yang sehat jadi tuduhan tak berperasaan. Bukan untuk mencari kompromi tapi untuk mengikis hakmu dalam berkata "tidak."

Berhenti sejenak. Tegaskan ulang batasanmu tanpa membela diri. Semakin banyak kamu membenarkan keputusanmu, semakin dalam kamu masuk ke jebakan itu.

2. Menjadikan kebaikan masa lalu sebagai utang yang harus dibayar

Ingat tumpangan ke bandara di tahun 2019? Orang itu pasti ingat. Karena kebaikan itu akan terus diungkit tiap kali mereka butuh sesuatu.

Manipulasi lewat rasa bersalah sering menyamar sebagai keadilan: “Setelah semua yang sudah aku lakukan buat kamu...”

Dalam hubungan yang sehat, kebaikan tidak dihitung-hitung. Kalau seseorang sibuk mencatat, kemungkinan besar mereka tidak sedang mengenang melainkan sedang menagih.

3. Menyerang nilai-nilai inti yang kamu pegang

Entah itu soal keluarga, keadilan, atau keyakinan, nilai-nilai yang paling kamu hargai bisa dijadikan senjata.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore