Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Maret 2025, 20.10 WIB

Psikologi Ungkap 7 Tanda Orang Tua yang Punya Anak Kesayangan, Meskipun Mereka Mengelaknya

Ilustrasi orang yang merasa menjadi anak kesayangan dalam keluarga. - Image

Ilustrasi orang yang merasa menjadi anak kesayangan dalam keluarga.

JawaPos.com - Kita semua pasti pernah dengar kalimat ini dari orang tua, "Aku mencintai kalian semua sama rata. Tidak ada yang favorit, tidak ada yang lebih disayang."
 
Tapi, yuk jujur saja. Kadang, rasanya saudara kita dapat perhatian lebih, kan? 
 
Faktanya, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua memang punya anak kesayangan meskipun mereka tidak mau mengakuinya. 
 
Ini bukan soal kejam atau pilih kasih secara sadar, tapi lebih ke pola perilaku yang tanpa disadari menunjukkan bahwa satu anak lebih diperhatikan dibanding yang lain.
 
Kalau kamu penasaran apakah orang tuamu (atau mungkin kamu sendiri sebagai orang tua) pernah melakukan ini, simak 7 tanda berikut, dikutip dari Small Business Bonfire, Selasa (18/3).
 
 
1. Memberi Perhatian yang Tidak Merata
 
Sebagai orang tua, wajar kalau perhatian terbagi antara pekerjaan, urusan rumah tangga, dan anak-anak. Tapi, anak-anak selalu bisa menangkap ke mana perhatian itu lebih sering tertuju.
 
Misalnya, apakah kamu lebih antusias menghadiri pertandingan sepak bola anak sulung dibanding konser piano anak bungsu? Apakah satu anak lebih sering dipuji dibanding yang lain?
 
Perhatian yang tidak merata bisa meninggalkan kesan bahwa satu anak lebih dihargai. Jadi, coba lebih sadar dalam membagi perhatian dan pastikan semua anak merasa diperlakukan dengan adil.
 
2. Perbedaan dalam Mendisiplinkan
 
Dulu, adikku bisa melakukan kesalahan tanpa konsekuensi serius, sementara aku selalu kena omel hanya karena lupa merapikan tempat tidur.
 
Kedengarannya nggak adil? Ya, memang.
 
Sebagai orang tua, mungkin tanpa sadar kita lebih tegas pada anak pertama karena merasa mereka harus lebih bertanggung jawab, sementara anak bungsu lebih dimanja. Padahal, aturan yang tidak konsisten bisa membuat anak merasa diperlakukan tidak adil.
 
Solusinya? Terapkan aturan yang sama dan konsisten untuk semua anak. Dengan begitu, mereka tahu bahwa perlakuan orang tua tidak tergantung pada urutan lahir, tetapi pada tanggung jawab dan perilaku mereka.
 
 
3. Sering Membandingkan Anak
 
Kalimat seperti "Kenapa kamu nggak bisa seperti kakakmu?" atau "Adikmu nggak pernah bikin masalah seperti ini." terdengar familiar?
 
Membandingkan anak-anak adalah kebiasaan yang bisa membuat mereka merasa tidak cukup baik dan menciptakan persaingan yang tidak sehat.
 
Setiap anak itu unik, punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Daripada membandingkan, lebih baik fokus pada cara mendukung perkembangan mereka sesuai dengan potensi masing-masing.
 
4. Beban Tanggung Jawab yang Berbeda
 
Misalkan anak sulung sedang kesulitan mengerjakan PR, sementara si bungsu merengek minta ditemani main. Jika ini sering terjadi dan anak sulung terus-menerus diminta untuk lebih mandiri, sementara anak bungsu selalu mendapat bantuan, maka bisa jadi ada kecenderungan favoritisme.
 
Mendorong kemandirian memang baik, tapi harus adil. Jika satu anak terus dibebani tanggung jawab lebih banyak dibanding saudara-saudaranya, mereka bisa merasa tidak dihargai.
 
5. Hanya Merayakan Keberhasilan Anak Tertentu
 
Orang tua mana yang nggak bangga saat anaknya menang lomba atau dapat nilai bagus? Tapi, jika hanya satu anak yang selalu dipuji dan dirayakan keberhasilannya, anak lain bisa merasa tidak dianggap.
 
Prestasi sekecil apa pun layak dihargai, entah itu memenangkan kejuaraan olahraga atau sekadar berhasil menyelesaikan tugas yang sulit. Pastikan setiap anak merasa dihargai atas usaha mereka, bukan hanya karena pencapaian yang terlihat besar.
 
6. Mengabaikan Perasaan Anak
 
 
Ketika anak kecil menangis karena nggak dapat es krim, atau remaja cemberut karena nggak boleh keluar malam, sering kali kita menganggap itu cuma "drama".
 
Padahal, buat mereka, itu adalah perasaan yang nyata. Kalau orang tua terus-menerus mengabaikan atau meremehkan emosi anak tertentu, mereka bisa merasa tidak penting.
 
Jadi, cobalah lebih sering mendengarkan, memahami, dan menghargai perasaan mereka. Ini akan membuat mereka merasa lebih dihargai dan diperhatikan.
 
7. Tidak Menghargai Keunikan Anak
 
Setiap anak punya minat dan bakat yang berbeda. Tapi kadang, tanpa sadar, orang tua lebih fokus pada satu jenis keberhasilan yang lebih mereka sukai.
 
Misalnya, jika orang tua lebih sering memuji anak yang jago olahraga tetapi jarang menghargai anak yang berbakat dalam seni, anak yang kurang diperhatikan bisa merasa tidak cukup baik.
 
Sebagai orang tua, penting untuk mendukung setiap anak sesuai dengan minat mereka, bukan hanya yang dianggap lebih "hebat" di mata masyarakat.
 
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore