
Ilustrasi seorang anak sedang dimarahi orang tuanya (Freepik)
Jawapos.com - Pola asuh otoriter merupakan gaya pengasuhan yang menekankan ketegasan dan disiplin tinggi dalam mendidik anak. Meskipun ketegasan diperlukan untuk memberikan batasan yang jelas, penerapan pola asuh yang terlalu kaku dan tanpa ruang untuk komunikasi yang sehat dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.
Dikutip dari laman Hello Sehat, terdapat berbagai dampak negatif dari penerapan pola asuh otoriter terhadap perkembangan anak. Berikut adalah penjelasan rinci mengenai dampak tersebut:
Anak Menjadi Agresif
Anak yang tumbuh di bawah pola asuh otoriter sering kali melihat kekerasan atau hukuman sebagai cara menyelesaikan masalah. Mereka mungkin meniru perilaku ini dalam interaksi dengan teman sebaya, saudara, atau bahkan di lingkungan sekolah. Sikap agresif ini bisa muncul dalam bentuk fisik, seperti memukul, atau verbal, seperti berkata kasar.
Kesulitan dalam Interaksi Sosial
Anak yang tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat atau mengutarakan perasaan sering kali merasa canggung dalam interaksi sosial. Mereka mungkin merasa takut untuk berbicara, tidak tahu bagaimana menanggapi orang lain, atau kesulitan membangun hubungan yang sehat.
Tidak Mampu Membuat Keputusan
Karena terbiasa mengikuti aturan yang ketat tanpa diberi kesempatan untuk berpikir sendiri, anak bisa tumbuh menjadi individu yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Mereka cenderung takut melakukan kesalahan dan selalu mencari persetujuan dari orang lain sebelum bertindak, yang dapat menghambat kemandirian mereka.
Harga Diri Rendah
Kritik yang terus-menerus tanpa disertai apresiasi dapat membuat anak merasa tidak cukup baik atau tidak berharga. Mereka mungkin merasa bahwa apapun yang mereka lakukan selalu salah, sehingga tumbuh dengan perasaan tidak percaya diri dan takut gagal. Hal ini bisa berdampak pada kepercayaan diri mereka.
Cenderung Memberontak saat Dewasa
Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan aturan ketat tanpa ruang untuk berpendapat bisa merasa terkekang. Ketika mereka mencapai usia dewasa dan memiliki lebih banyak kebebasan, mereka mungkin memberontak terhadap segala bentuk otoritas, baik itu dalam lingkungan kerja, keluarga, atau masyarakat.
Kurang Berpikir Kritis
Jika sejak kecil anak hanya diperintahkan untuk mengikuti aturan tanpa diberi kesempatan untuk mempertanyakan atau memahami alasannya, mereka akan kesulitan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Mereka mungkin terbiasa menerima informasi tanpa menganalisisnya terlebih dahulu.
Kesulitan Mengelola Emosi

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
