Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Februari 2025 | 23.30 WIB

8 Kesalahan Parenting yang Buat Anak Sulit Bergaul dan Mengisolasi Diri dari Masyarakat, Kata Psikologi

Kesalahan parenting yang buat anak sulit bergaul dan mengisolasi diri dari masyarakat menurut psikologi. (Freepik/ peoplecreations) - Image

Kesalahan parenting yang buat anak sulit bergaul dan mengisolasi diri dari masyarakat menurut psikologi. (Freepik/ peoplecreations)

JawaPos.com – Pola asuh orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosial anak. Kesalahan dalam parenting dapat membuat anak kesulitan bergaul dengan orang lain, bahkan cenderung mengisolasi diri dari lingkungan sosial.

Tanpa disadari, beberapa parenting tertentu bisa menanamkan rasa takut, kurang percaya diri, atau kecenderungan menarik diri dari masyarakat.

Dilansir dari geediting.com pada Kamis (27/2), diterangkan bahwa terdapat delapan kesalahan parenting yang membuat anak tidak mudah bergaul dan mengisolasi diri dari masyarakat menurut psikologi.

  1. Terlalu melindungi dari setiap tantangan

Dorongan alamiah orangtua untuk melindungi anak dari kesulitan seringkali justru kontraproduktif bagi perkembangan sosial mereka. Ketika anak tidak pernah diizinkan menghadapi kegagalan atau kekalahan tanpa campur tangan orangtua, mereka tidak mengembangkan kemampuan mengatasi masalah yang diperlukan untuk menghadapi dunia nyata.

Anak yang selalu “diselamatkan” dari setiap kesulitan akan tumbuh dengan ekspektasi bahwa selalu ada orang lain yang akan menyelesaikan masalah mereka. Kecemasan mendalam dapat terbentuk seiring waktu, membuat mereka cenderung menghindari situasi dan orang-orang yang berpotensi menyebabkan rasa sakit atau malu.

  1. Tidak mengajarkan tanggung jawab

Ketika orangtua terlalu cepat membela atau membenarkan kesalahan anak-anak mereka, hal ini dapat menciptakan pola pikir bahwa orang lain selalu bersalah.

Anak-anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak pernah bertanggung jawab atas tindakan mereka berisiko mengembangkan locus of control eksternal—yaitu pemikiran bahwa kejadian dalam hidup hanya terjadi pada mereka, bukan sebagai hasil dari pilihan mereka sendiri.

Ketika mereka memasuki dunia nyata, mereka mungkin merasa tidak berdaya dan terputus dari harapan masyarakat.

Alih-alih terlibat dengan orang lain dan bersama-sama memecahkan masalah, mereka cenderung menarik diri, yakin bahwa hidup tidak adil dan mereka tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengubahnya.

  1. Terlalu menekankan prestasi

Mengikat harga diri anak semata-mata pada prestasi, nilai, atau penghargaan akan menempatkan mereka pada landasan yang sangat tidak stabil. Ketika anak-anak yang diajarkan untuk mengejar kesuksesan mengalami kegagalan—atau bahkan hanya mengalami masa tanpa keberhasilan yang jelas—mereka mungkin menjadi takut akan penilaian atau penolakan.

Ketakutan ini dapat memicu kecenderungan untuk menghindari situasi sosial atau upaya kolaboratif di mana mereka mungkin tidak menonjol sebagai “yang terbaik”.

Dalam pikiran mereka, tidak ada validasi berarti tidak ada nilai, sehingga mereka lebih memilih menjauh dari lingkungan sosial yang tidak memberikan pengakuan yang mereka butuhkan.

  1. Menekan ekspresi emosional

Ungkapan seperti “Berhenti menangis, itu bukan masalah besar” atau “Mengapa kamu begitu sensitif?” dapat mengirimkan pesan bahwa emosi tertentu tidak dapat diterima. Seiring waktu, anak-anak mulai menyembunyikan perasaan mereka, percaya bahwa mereka salah atau memalukan karena mengalami emosi tersebut.

 Seorang anak laki-laki yang diberitahu bahwa “laki-laki tidak menangis” mungkin akan tumbuh dengan kesulitan berbagi kegelisahan atau kerentanan dengan teman, pasangan, atau bahkan rekan kerja.

Jika seseorang tidak dapat mengekspresikan diri, mereka sering memilih isolasi daripada risiko disalahpahami atau diejek, yang semakin memperkuat pola penarikan diri sosial.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore