Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Februari 2025 | 04.49 WIB

Penasaran Kenapa Manusia Haus Perhatian? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi pasangan yang manis dan penuh perhatian. (Freepik) - Image

Ilustrasi pasangan yang manis dan penuh perhatian. (Freepik)

JawaPos.com - Siapa sih di sini yang nggak suka jadi pusat perhatian, atau setidaknya mendapatkan perhatian dari seseorang sesekali? Entah itu saat teman-teman mendukung kita atau ketika orang-orang di sekitar menunjukkan apresiasi.
 
Tapi kenapa ya perhatian dari orang lain bisa begitu menggoda? Dan kenapa kalau kita merasa diabaikan, rasanya seperti nggak dianggap sama sekali? Penasaran nggak?
 
Ilmu sains ternyata punya jawabannya. Ini bukan sekadar haus validasi, tapi ada alasan biologis dan evolusioner yang melatarbelakanginya. Yuk, kita kupas lebih dalam, dikutip sari Blog Herald, Kamis (20/2).
 
Mengapa Kita Mencari Perhatian?
 
1. Insting Bertahan Hidup
 
Sejak zaman nenek moyang, manusia sudah bergantung pada kelompok untuk bertahan hidup. Jika diabaikan atau dikucilkan, risiko bahaya meningkat.
 
Inilah kenapa otak kita masih membawa naluri itu sampai sekarang: mencari validasi untuk memastikan bahwa kita aman dan diterima dalam lingkungan sosial.
 
2. Peran Neuron Cermin
 
Neuron cermin di otak membantu kita memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain. Ketika seseorang benar-benar mendengarkan kita atau menunjukkan minat pada cerita kita, neuron cermin kita ikut aktif. Hasilnya? Kita merasa dihargai dan dimengerti.
 
Ahli kecerdasan emosional, Daniel Goleman, menekankan bahwa koneksi semacam ini sangat penting dalam interaksi sosial. Saat seseorang "menangkap" perasaan kita, otak kita merespons dengan berkata, "Ya, saya berharga di sini."
 
3. Peran Amigdala
 
Amigdala adalah bagian otak yang bertugas memproses rasa takut dan ancaman. Saat kita merasa diabaikan atau ditolak, amigdala bisa bereaksi berlebihan yang menimbulkan kecemasan dan kesepian.
 
Itulah kenapa ditinggalkan oleh lingkungan sosial terasa sangat menyakitkan. Sebagai respons, otak kita mencari perhatian untuk menghindari perasaan terisolasi.
 
Perhatian, Validasi, dan Identitas Diri
 
Dalam psikologi, konsep Looking-Glass Self dari Charles Cooley menjelaskan bahwa kita membentuk identitas diri berdasarkan bagaimana kita yakin orang lain melihat kita. Kalau merasa kurang diperhatikan, kita bisa mulai meragukan nilai diri sendiri.
 
Rasa Memiliki
 
Sebagai makhluk sosial, kita butuh rasa memiliki. Perhatian dari orang lain—seperti pujian dari bos atau teman yang antusias mendengar cerita kita—bisa memperkuat identitas sosial kita. 
 
Psikolog Carl Rogers bahkan menekankan pentingnya apresiasi positif dalam hubungan manusia. Perhatian yang kita terima sering kali menjadi bentuk kecil dari penghargaan itu.
 
Manfaat Perhatian yang Sehat
 
Beberapa orang mungkin menganggap mencari perhatian sebagai tindakan narsistik. Tapi kalau dilakukan dengan seimbang, ini bisa berdampak positif, lho! Dorongan untuk mendapatkan pengakuan bisa:
 
Memotivasi pengembangan diri – Misalnya, saat kita ingin tampil maksimal dalam pekerjaan atau hobi.
 
Memperkuat hubungan sosial – Ketika kita merasa dihargai, kita cenderung ingin berbagi dan memberikan perhatian balik kepada orang lain.
 
Ketika Mencari Perhatian jadi Masalah
 
Namun, ada batasannya. Jika kita terlalu bergantung pada validasi eksternal, bisa muncul berbagai masalah, seperti:
 
Perasaan naik-turun – Hanya merasa bahagia saat mendapat perhatian, tapi terpuruk saat tidak diperhatikan.
 
Mengorbankan nilai diri – Rela melakukan apa saja demi mendapatkan pengakuan.
 
Merusak hubungan – Selalu ingin jadi pusat perhatian bisa membuat hubungan dengan teman atau pasangan jadi tegang.
 
Brené Brown pernah mengatakan, "Tetap rentan adalah risiko yang harus kita ambil jika ingin merasakan koneksi sejati." Artinya, koneksi yang tulus tidak berasal dari pencitraan, tapi dari keberanian menunjukkan diri apa adanya.
 
Efek Perhatian pada Otak
 
Saat kita mendapatkan perhatian positif, otak kita melepaskan dopamin, zat kimia yang membuat kita merasa senang. 
 
Ini mirip dengan efek yang kita rasakan saat mendapatkan notifikasi media sosial—setiap like dan komentar bisa menjadi dopamine hit kecil yang bikin kita ketagihan.
 
Namun, jika kita terlalu mengandalkan perhatian eksternal, kita bisa terjebak dalam siklus kecanduan validasi. 
 
Solusinya, coba temukan kebahagiaan dari hal-hal yang tidak selalu melibatkan pengakuan orang lain, seperti menekuni hobi tanpa perlu membagikannya ke media sosial.
 
Menjaga Keseimbangan
 
Agar tidak terjebak dalam pencarian perhatian yang berlebihan, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
 
1. Tetapkan tujuan yang lebih dalam – Fokus pada pertumbuhan pribadi, bukan sekadar pengakuan.
 
2. Latih apresiasi diri – Saat mendapat pujian, tanyakan pada diri sendiri apa yang membuat Anda bangga dari usaha tersebut.
 
3. Bangun koneksi yang lebih dalam – Hubungan yang bermakna lebih bernilai daripada sekadar perhatian singkat.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore