Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Februari 2025 | 17.21 WIB

Mengenal FOBO Lawan dari FOMO: Perasaan Takut Tersaingi yang Dapat Menghambat Hidupmu, Begini Cara Mengatasinya!

Ilustrasi FOBO lawan dari FOMO yang dapat menghambat hidupmu dan cara mengatasinya (freepik) - Image

Ilustrasi FOBO lawan dari FOMO yang dapat menghambat hidupmu dan cara mengatasinya (freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa takut bahwa orang lain lebih unggul darimu? Perasaan ini bisa muncul dalam berbagai situasi, terutama ketika kamu harus bersaing atau membuat keputusan penting.

Ketakutan ini dapat menghambat perkembangan diri karena membuatmu ragu dan sulit menentukan langkah. Jika dibiarkan, perasaan ini bisa menjadi penghalang dalam karier, pertemanan, dan kehidupan sosial.

Dilansir melalui laman Psychology Today, Bence Nanay, Ph.D., seorang Profesor Riset dalam bidang Filsafat di Centre for Philosophical Psychology, University of Antwerp, menjelaskan bahwa perasaan takut tersaingi merupakan hal yang manusiawi dan bisa dirasakan oleh siapa saja dan perasaan ini dalam dunia psikologi, disebut sebagai FOBO (Fear of Better Option).

Mengutip sumber lain, Darius Foroux, seorang penulis buku The Stoic Path to Wealth, melalui laman resminya menjelaskan bahwa FOBO sebenarnya adalah kebalikan dari FOMO. Jika FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan kehilangan sesuatu, maka FOBO adalah ketakutan akan tersaingi oleh pilihan yang lebih baik.

"FOBO adalah fenomena psikologis di mana seseorang menghindari membuat keputusan karena takut ada pilihan yang lebih baik," jelas Darius melalui laman dariusforoux.com, Senin (17/2).

Lebih lanjut, Nanay menambahkan bahwa ketakutan akan tersaingi bisa jadi indikasi masalah mental seseorang. Ketika seseorang takut tersaingi, mereka akan melakukan berbagai cara untuk menghindari rasa sakit akibat kalah dalam persaingan. Sayangnya, hal ini sering kali berujung pada tindakan yang merugikan orang lain.

Menurut Nanay, fenomena ini sudah terjadi sejak lama. Bahkan, Oscar Wilde, seorang penyair dan penulis drama Irlandia yang dikutip oleh Nanay, pernah berkata pada tahun 1895 bahwa persaingan yang kejam sudah terjadi sejak dulu dan semakin buruk dari waktu ke waktu.

Lalu, apa yang sebenarnya melatarbelakangi terbentuknya fenomena FOBO? Dilansir melalui laman dariusforoux.com, istilah ketakutan akan kehilangan dan ketakutan terhadap pilihan yang lebih baik pertama kali dikemukakan oleh Patrick McGinnis. Menurutnya, perasaan ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan bagian dari sifat alami manusia.

"Perasaan ini merupakan bagian dari diri kita secara biologis. Saya menyebutnya sebagai naluri untuk selalu menginginkan yang terbaik. Nenek moyang kita sejak jutaan tahun lalu sudah diprogram untuk menunggu pilihan terbaik karena itu meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup," jelas McGinnis.

Namun, kemajuan teknologi dan internet telah mempercepat penyebaran FOBO. Kini, kita lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain, yang memicu ketakutan akan ketinggalan, serta merasa terbebani dengan banyak pilihan, yang akhirnya menyebabkan FOBO.

McGinnis juga menjelaskan bahwa FOBO didorong oleh sifat egois. Ketika kamu mengalaminya, kamu lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain, yang akhirnya membuat orang-orang di sekitarmu berada dalam ketidakpastian.

Beberapa psikolog juga menemukan dasar bagi fenomena FOBO. Dalam pengambilan keputusan, manusia terbagi menjadi dua kelompok: yaitu pencari pilihan terbaik dan pencari pilihan yang cukup baik.

Pencari pilihan terbaik adalah mereka yang selalu mencari keputusan terbaik untuk jangka panjang, sedangkan pencari pilihan yang cukup baik lebih memilih apa yang paling menguntungkan saat ini.

Sebagai contoh, seseorang yang mencari pilihan terbaik mungkin akan membeli mobil yang lebih besar dari kebutuhannya sekarang, karena berpikir bahwa di masa depan mungkin akan memerlukannya. Sedangkan seseorang yang mencari pilihan cukup baik hanya akan memilih mobil yang cukup untuk saat ini.

Sebuah penelitian lain yang dijelaskan oleh McGinnis dalam artikel dariusforoux.com menunjukkan bahwa orang yang selalu mencari pilihan terbaik sering kali kurang puas dengan keputusan yang mereka buat dibandingkan dengan mereka yang cukup puas dengan pilihan yang ada. Dengan kata lain, semakin seseorang berusaha mencari yang terbaik, semakin besar kemungkinan mereka merasa tidak bahagia dan berakhir FOBO.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore