
Ilustrasi orang yang cerdas secara emosional. (Freepik)
JawaPos.com - Seorang ahli psikologi dan penulis asal Amerika yang terkenal dengan karyanya mengenai kecerdasan emosional, yakni Daniel Goleman meliput topik berkaitan dengan ilmu perilaku dan otak.
Dikutip dari laman Belbuk, Daniel Goleman telah memperbanyak karya tulisnya mengenai hal tersebut, seperti "Bekerja dengan Kecerdasan Emosional" (1998), "Kepemimpinan Primal" (bersama Richard Boyatzis dan Annie McKee, 2002), dan "Fokus: Pengemudi Tersembunyi Keunggulan" (2013).
Faktanya, kecerdasan emosional ini sering dikesampingkan oleh masyarakat karena lebih mengunggulkan kecerdasan intelektual, seperti seberapa tinggi nilai matematika atau fisika.
Dilansir dari laman Blog Herald, menurut Daniel Goleman, orang yang cerdas secara emosional, mampu mengubah 8 nilai ini dalam kehidupannya seiring bertambahnya usia:
1. Mengubah validasi eksternal jadi lebih autentik
Di masa muda kita, mudah untuk terbungkus dalam apa yang dipikirkan orang lain untuk mengejar status, terobsesi dengan jumlah suka media sosial, atau mendambakan persetujuan terus-menerus dari keluarga.
Namun, dengan kecerdasan emosional, orang-orang menyadari bahwa kepercayaan diri sejati tidak membutuhkan seberapa banyak validasi eksternal.
Perspektif Goleman tentang kesadaran diri emosional mendukung hal ini. Dia telah mengatakan bahwa memahami emosi sendiri dapat membantu kamu melepaskan diri dari lingkaran tanpa akhir mencari pujian dari luar.
2. Dari perfeksionis menjadi fleksibel
Di awal karir atau bahkan dalam perkembangan pribadi kita, perfeksionisme dapat terasa seperti lencana kehormatan. Misalnya dengan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyempurnakan setiap detail, serta percaya bahwa kesempurnaan mendapatkan rasa hormat.
Namun seiring berjalannya waktu, banyak individu yang cerdas secara emosional menyadari bahwa mengejar kesempurnaan hanya menguras energi.
Ketika kita mengubah hidup yang perfeksionis ini menjadi fleksibel, maka kamu dapat menggunakan energi dengan bijak daripada membiarkan perfeksionisme menguasai hidup.
3. Dari daya saing sosial hingga kolaborasi sejati
Ketika masih muda, kita sering merasakan persaingan yang kurang baik untuk bisa mendapatkan nilai tertinggi, mendapatkan pekerjaan terbaik, atau mengumpulkan prestasi yang paling mengesankan.
Tetapi ketika orang-orang yang cerdas secara emosional menjadi dewasa, fokus bergeser dari mengungguli orang lain menjadi bekerja bersama mereka. Bukannya kehilangan ambisi, tapi sangat mengenali kekuatan sinergi.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
