Ilustrasi orang tua dan anak sedang bermain (freepik)
JawaPos.com - Tumbuh dalam keluarga dengan aturan tegas tentu diharapkan bisa membentuk kepribadian seseorang dalam banyak hal. Ini bisa berarti positif bisa juga negatif di kemudian hari.
Kadang, itu membuatmu lebih disiplin, tapi di sisi lain bisa juga membuatmu lebih cemas atau sulit merasa cukup baik. Tanpa sadar, pola asuh ini meninggalkan bekas yang terbawa hingga dewasa.
Kalau kamu dibesarkan dalam lingkungan yang sangat ketat, psikologi mengungkap bahwa kemungkinan besar kamu memiliki beberapa sifat seperti dikutip dari Hack Spirit, Kamis (13/2) ini.
1. Kamu Cenderung Overthinking
Dulu, saat masih anak-anak setiap keputusan yang kamu buat mungkin selalu diawasi dan dikomentari oleh orang tua. Akibatnya, kamu jadi terbiasa memikirkan segala sesuatu secara berlebihan.
Hal-hal kecil, seperti memilih pakaian atau kata-kata dalam percakapan, bisa terasa lebih rumit dari yang seharusnya. Kebiasaan ini muncul karena sejak kecil kamu diajarkan untuk selalu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan.
Memikirkan sesuatu dengan cermat memang bagus, tapi kalau berlebihan, bisa membuat hidup terasa lebih melelahkan dan tak bisa menikmatinya.
2. Kamu Sering Meminta Maaf
Apakah kamu pernah meminta maaf bahkan saat bukan kesalahanmu? Misalnya, seseorang menabrakmu, tapi justru kamu yang bilang, "Maaf!"
Ini terjadi karena sejak kecil kamu mungkin merasa harus menghindari konflik dengan selalu bersikap "baik" dan mengalah.
Namun, sebagai orang dewasa, penting untuk menyadari bahwa tidak semua hal memerlukan permintaan maaf, dan hakmu untuk berbicara tetap valid tanpa harus merasa bersalah.
3. Sulit untuk Santai
Di rumah yang ketat, sering kali ada anggapan bahwa produktivitas lebih penting daripada istirahat. Akhirnya, kamu terbiasa merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu yang dianggap "bermanfaat."
Padahal, tubuh dan pikiran juga butuh waktu untuk beristirahat. Belajar menerima bahwa beristirahat bukanlah kemalasan, tetapi kebutuhan, bisa membantumu menjalani hidup dengan lebih seimbang.
4. Rasa Tanggung Jawab yang Kuat
Kamu mungkin tumbuh dengan pemahaman bahwa menjadi orang yang dapat diandalkan adalah hal yang sangat penting. Kamu selalu berusaha memenuhi janji, menyelesaikan tugas, dan melakukan yang terbaik.
Meskipun ini adalah sifat yang baik, terkadang kamu bisa merasa terlalu terbebani, bahkan oleh hal-hal yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu. Belajar mengatakan "tidak" dan menetapkan batasan adalah keterampilan penting yang perlu dikembangkan.
5. Sulit Meminta Bantuan
Dari kecil, kamu mungkin sering diajarkan untuk menyelesaikan masalah sendiri. Akibatnya, saat menghadapi kesulitan, kamu lebih memilih menanggung semuanya sendiri daripada meminta bantuan.
Padahal, meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian. Tidak ada yang bisa menjalani hidup sendirian, dan menerima dukungan dari orang lain justru bisa membuat hidup lebih mudah.
6. Sering Mencari Pengakuan Tapi Tak Pernah Merasa Cukup
Dalam lingkungan yang ketat, apresiasi sering kali terasa bersyarat. Bahkan setelah mencapai sesuatu, mungkin yang kamu dengar adalah, "Bagus, tapi kamu bisa lebih baik lagi."
Akhirnya, kamu tumbuh dengan perasaan bahwa kamu harus terus berusaha lebih keras agar bisa diterima atau dihargai. Padahal, kamu berharga bukan karena apa yang kamu capai, tetapi karena siapa dirimu sebenarnya.
7. Sulit Mengekspresikan Emosi
Kalau kamu dibesarkan di lingkungan yang tidak terlalu terbuka terhadap perasaan, kamu mungkin terbiasa menekan emosimu. Alih-alih berbicara saat merasa sedih atau marah, kamu lebih memilih diam dan "menyimpannya sendiri."
Namun, emosi yang tidak diekspresikan tidak akan hilang begitu saja—mereka hanya menumpuk dan bisa muncul dalam bentuk stres atau kecemasan. Belajar mengungkapkan perasaan dengan sehat adalah hal penting untuk kesejahteraan mental.
8. Tidak Nyaman Melanggar Aturan
Kamu mungkin merasa canggung atau bersalah saat melakukan sesuatu yang sedikit "di luar aturan," bahkan jika itu tidak berbahaya. Misalnya, izin sakit karena butuh istirahat bisa membuatmu merasa bersalah, padahal itu hakmu.
Tidak semua aturan itu mutlak. Terkadang, mempertanyakan dan menyesuaikan aturan dengan kebutuhan diri sendiri justru lebih baik daripada selalu patuh tanpa berpikir.
9. Terlalu Keras Pada Diri Sendiri
Sejak kecil, kamu terbiasa dengan standar tinggi, dan kini kamu menetapkan standar yang sama (atau bahkan lebih tinggi) untuk dirimu sendiri meski sudah tak ada lagi orang tua yang mengaturmu. Kesalahan kecil bisa membuatmu merasa gagal, dan pencapaian sering kali terasa tidak cukup memuaskan.
Namun, penting untuk diingat bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik. Tidak ada yang sempurna, dan kamu juga berhak untuk menghargai dirimu sendiri tanpa harus terus-menerus merasa kurang.