Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Februari 2025 | 23.56 WIB

Psikologi Sosial: 7 Frasa Tidak Peka yang Diucapkan Orang yang Tidak Memiliki Kecerdasan Emosional Tanpa Menyadarinya

Ilustrasi Orang yang Tidak Memiliki Kecerdasan Emosional - Image

Ilustrasi Orang yang Tidak Memiliki Kecerdasan Emosional

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mendengar atau bahkan tanpa sadar mengucapkan frasa yang bisa melukai perasaan orang lain.

Padahal, kecerdasan emosional bukan hanya tentang memahami perasaan sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kata-kata kita berdampak pada orang lain.

Orang dengan kecerdasan emosional rendah sering kali tidak menyadari bahwa cara mereka berbicara bisa terkesan meremehkan, menyakitkan, atau bahkan membuat orang lain semakin kesal.

Dalam psikologi sosial, hal ini berkaitan dengan kurangnya empati atau kemampuan untuk memahami dan menghargai perspektif serta perasaan orang lain.

Dilansir dari laman Geediting.com pada Rabu (12/2) berikut adalah tujuh frasa tidak peka yang sering diucapkan tanpa disadari oleh orang yang kurang empati.

1. "Tenanglah"

Jika seseorang sedang marah, kesal, atau cemas, menyuruh mereka untuk "tenang" hampir tidak pernah berhasil. Faktanya, frasa ini sering kali memiliki efek sebaliknya, yakni membuat orang tersebut semakin frustrasi.

Ketika seseorang sedang dalam kondisi emosional yang kuat, mereka butuh validasi atas perasaannya, bukan perintah untuk menekan atau mengabaikannya. Alih-alih terdengar membantu, ucapan ini justru bisa dianggap sebagai bentuk meremehkan situasi mereka.

2. "Itu bukan masalah besar"

Frasa ini biasanya diucapkan dengan maksud menenangkan atau memberikan perspektif lain. Namun, dalam praktiknya, ini bisa terdengar seperti meremehkan perasaan seseorang.

Apa yang dianggap sepele bagi satu orang belum tentu sama bagi orang lain. Dalam psikologi sosial, kita memahami bahwa pengalaman emosional itu subjektif yang artinya, setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons suatu situasi. Jadi, ketika seseorang membagikan keluh kesahnya, mereka lebih membutuhkan pengakuan dan empati daripada sekadar penilaian bahwa masalah mereka "tidak seberapa."

3. "Kamu selalu…" atau "Kamu tidak pernah…"

Frasa ini sering muncul saat terjadi konflik. Masalahnya, kata-kata seperti "selalu" dan "tidak pernah" adalah bentuk generalisasi yang cenderung membuat seseorang bersikap defensif. Misalnya, jika Anda berkata, "Kamu tidak pernah mendengarkan aku," otak lawan bicara Anda secara otomatis akan mencari contoh saat mereka memang pernah mendengarkan.

Akibatnya, bukannya memahami perasaan Anda, mereka justru sibuk membuktikan bahwa Anda salah. Orang dengan kecerdasan emosional rendah cenderung menggunakan pola komunikasi ini tanpa menyadari bahwa itu membuat percakapan menjadi buntu.

4. "Saya hanya jujur"

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore