Kebiasaan kebahagiaan di kehidupan menurut psikologi./Freepik.
JawaPos.com – Setiap orang ingin menjalani hidup yang bahagia, tetapi tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan tertentu yang justru menjadi penghalang utama dalam mencapai kebahagiaan.
Kebiasaan ini mungkin tampak sepele atau bahkan sudah mendarah daging, tetapi menurut psikologi, mereka bisa menguras energi emosional dan membuat hidup terasa lebih berat dari seharusnya.
Dilansir dari Hack Spirit pada Rabu (12/2), diterangkan bahwa terdapat lima kebiasaan yang harus ditinggalkan jika tujuan kamu adalah kebahagiaan di kehidupan normal menurut psikologi.
Di era digital yang serba terhubung ini, sangat mudah terjebak dalam perangkap membandingkan diri dengan orang lain. Kita sering scrolling media sosial dan tanpa sadar mulai mengukur pencapaian diri dengan kesuksesan orang lain yang terpampang di timeline.
Padahal, seperti yang dikatakan psikolog Jordan Peterson, lebih baik membandingkan diri dengan siapa kita kemarin ketimbang siapa orang lain hari ini. Media sosial hanyalah tampilan highlight kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh realitas sehari-hari mereka.
Membandingkan kehidupan kita yang apa adanya dengan tampilan sempurna orang lain di media sosial sama saja dengan bermain permainan yang sudah diatur untuk membuat kita kalah. Yang terpenting adalah melihat progress pribadi dan perkembangan diri dibanding hari kemarin.
Dalam kesibukan rutinitas sehari-hari, kita seringkali terlalu fokus pada kekurangan dan keluhan, alih-alih menghargai hal-hal positif yang sudah ada. Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa rasa syukur memiliki korelasi kuat dengan kebahagiaan yang lebih besar.
Dengan bersyukur, seseorang dapat merasakan emosi positif yang lebih banyak, menikmati pengalaman baik, meningkatkan kesehatan, dan membangun hubungan yang lebih kuat.
Mengambil waktu sejenak setiap pagi untuk mencatat hal-hal yang disyukuri, sekecil apapun itu, dapat mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Seperti kata Lao Tzu, ketika kamu menyadari bahwa tidak ada yang kurang dalam hidupmu, seluruh dunia menjadi milikmu.
Dalam budaya yang terobsesi dengan pencapaian, self-care sering dianggap sebagai kemewahan atau bahkan pemborosan waktu. Namun menurut Psych Central, kurangnya perawatan diri berkaitan erat dengan perasaan putus asa, kurangnya kesabaran, serta memperburuk gejala kecemasan dan depresi.
Self-care bukan hanya tentang berendam dengan busa atau pergi ke spa, tapi lebih kepada membangun kebiasaan harian yang merawat pikiran, tubuh, dan jiwa. Ini bisa dimulai dari meditasi mindfulness, menulis jurnal, atau sekadar berjalan-jalan singkat di alam untuk menjernihkan pikiran.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
