Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Februari 2025 | 21.45 WIB

Orang yang Selalu Dituntut Sempurna Sejak Kecil, Biasanya Menunjukkan 8 Perilaku Ini di Kemudian Hari

Ilustrasi seseorang yang selalu dituntut sempurna sejak kecil. (Freepik). - Image

Ilustrasi seseorang yang selalu dituntut sempurna sejak kecil. (Freepik).

JawaPos.com - Sejak kecil, kita diajarkan untuk selalu melakukan yang terbaik. Namun, bagi sebagian orang, melakukan yang terbaik tidak pernah cukup. Setiap kesalahan terasa seperti kegagalan, setiap pencapaian harus sempurna, dan tekanan untuk memenuhi standar yang tinggi terus menghantui.

Tekanan semacam ini tidak serta-merta hilang saat seseorang tumbuh dewasa. Sebaliknya, hal ini justru membentuk cara berpikir, bertindak, bahkan cara mereka menilai diri sendiri hingga dewasa.

Dilansir dari News Reports pada senin (10/2), jika kamu salah satu dari mereka yang mengalami tuntutan kesempurnaan sejak kecil, mungkin kamu akan mengenali delapan perilaku berikut ini dalam dirimu:

1. Sulit Merasa Puas dengan Pencapaian

Tidak peduli seberapa besar pencapaian yang diraih, rasanya selalu ada yang kurang. Meskipun berhasil mencapai target besar, mendapat pujian, atau bahkan melampaui ekspektasi, tetap ada dorongan untuk menetapkan standar baru yang lebih tinggi.

Hal ini terjadi karena sejak kecil, nilai diri mereka diukur dari pencapaian. Kesempurnaan adalah keharusan, dan segala sesuatu yang kurang dari itu dianggap sebagai kegagalan. Akibatnya, mereka kesulitan menikmati keberhasilan dan lebih fokus pada hal berikutnya yang harus dibuktikan.

2. Takut Berbuat Kesalahan

Membuat kesalahan, sekecil apa pun, terasa seperti bencana. Sejak kecil, mereka terbiasa menghindari kesalahan dengan segala cara. 

Bahkan saat dewasa, mereka terus menghabiskan waktu untuk memeriksa ulang pekerjaan, mengulang-ulang percakapan dalam pikiran, atau khawatir berlebihan sebelum mengirim pesan atau email.

Tekanan untuk selalu benar ini sangat melelahkan, tetapi sudah tertanam dalam diri mereka sejak kecil bahwa kesalahan bukanlah pilihan.

3. Mengaitkan Nilai Diri dengan Produktivitas

Baca Juga: Menteri Bahlil Siapkan Kepmen yang Wajibkan Eksportir Batu bara Gunakan HBA

Bagi banyak orang, istirahat adalah waktu untuk mengisi ulang energi. Namun, bagi mereka yang sejak kecil selalu dituntut sempurna, berhenti sejenak justru memunculkan rasa bersalah.

Otak mereka terbiasa menghubungkan pencapaian dengan nilai diri. Jika pujian hanya datang setelah kesuksesan, mereka akan merasa harus terus produktif agar dihargai. Akibatnya, mereka cenderung bekerja berlebihan, rentan terhadap kelelahan, dan merasa cemas saat tidak melakukan apa-apa.

4. Sulit Menerima Kritik

Mendapat kritik bukan hal yang mudah, tetapi bagi mereka yang sejak kecil dipaksa untuk sempurna, kritik terasa seperti serangan pribadi. Kesalahan bukan hanya dianggap sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki, tetapi sebagai sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara.

Akibatnya, bahkan kritik yang membangun pun bisa membuat mereka merasa gagal, malu, atau cemas, karena seolah-olah membuktikan bahwa mereka tidak cukup baik.

5. Enggan Meminta Bantuan

Mereka sering menganggap bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan. Sejak kecil, mereka terbiasa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, karena takut dianggap tidak kompeten jika meminta bantuan.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore