Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Februari 2025 | 22.36 WIB

8 Kebiasaan Orang yang Kebal Berita Bohong dan Hoaks, Salah Satunya Berpikir Kritis

Ilustrasi: Hoaks menghambat upaya penanganan Covid-19 di tanah air. (Dok.JawaPos.com).

 
JawaPos.com - Di era digital ini, kita dibombardir dengan informasi setiap saat. Sayangnya, tidak semua yang kita baca atau dengar itu benar. Banyak yang menelan berita bohong dan hoaks.
 
Berita bohong dan misinformasi yang menyebar begitu cepat sering kali membuat orang bingung dan bahkan percaya pada informasi yang salah.
 
Namun, ada sekelompok orang yang tampaknya selalu kebal terhadap jebakan ini. Mereka tidak mudah tertipu oleh berita hoaks karena memiliki kebiasaan tertentu yang membantunya menyaring informasi dengan lebih baik.
 
 
Jadi, siap menjadi lebih bijak dalam menyaring informasi?
 
Jika Anda ingin menjadi seperti mereka—lebih cerdas dalam memilah informasi dan tidak mudah tertipu—coba terapkan sembilan kebiasaan berikut ini, dikutip dari News Reports. 
 
1. Selalu Berpikir Kritis
 
Orang yang tidak mudah tertipu selalu menggunakan pemikiran kritis saat menerima informasi baru. Mereka tidak langsung percaya begitu saja, melainkan mempertanyakan sumbernya, melihat apakah ada agenda tertentu di baliknya, dan mempertimbangkan apakah masuk akal atau tidak.
 
Mereka tahu bahwa tidak semua informasi yang beredar di internet dapat dipercaya, bahkan jika terlihat meyakinkan. Dengan berpikir kritis, mereka bisa membedakan mana fakta dan mana yang hanya sekadar opini atau propaganda.
 
2. Selalu Mengecek Kebenaran Informasi
 
Alih-alih langsung percaya pada satu sumber, orang yang cerdas dalam menyaring berita selalu melakukan fact-checking atau pengecekan fakta. Mereka mencari informasi dari berbagai sumber terpercaya sebelum menyimpulkan apakah suatu berita benar atau tidak.
 
Misalnya, ketika mendengar berita besar, mereka akan melihat apakah media kredibel juga melaporkan hal yang sama. Jika hanya ditemukan di situs-situs yang tidak dikenal atau hanya beredar di media sosial tanpa sumber yang jelas, mereka akan lebih berhati-hati.
 
3. Menyadari Bias Diri Sendiri
 
Setiap orang memiliki bias, yaitu kecenderungan untuk percaya pada hal-hal yang sesuai dengan keyakinan mereka. Namun, orang yang tidak mudah tertipu menyadari bahwa bias ini bisa menyesatkan.
 
Mereka tidak serta-merta percaya hanya karena berita tersebut mendukung pandangan mereka.  Sebaliknya, mereka mencoba melihat dari berbagai sudut pandang dan tetap terbuka terhadap fakta yang mungkin berbeda dari apa yang mereka yakini.
 
4. Mengikuti Sumber Berita yang Beragam
 
Salah satu kebiasaan penting dari orang yang tidak mudah percaya hoaks adalah mereka tidak hanya mengandalkan satu sumber berita. Mereka mencari perspektif dari berbagai media, baik yang pro maupun kontra terhadap suatu isu, agar mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan objektif.
 
Dengan membaca dari berbagai sumber, mereka bisa menghindari efek “echo chamber” atau lingkaran informasi tertutup yang hanya memperkuat satu sudut pandang tertentu.
 
5. Tidak Mudah Terpancing Emosi
 
Banyak berita palsu dirancang untuk membangkitkan emosi—baik itu kemarahan, ketakutan, atau kebahagiaan berlebihan. Orang yang tidak mudah tertipu sadar akan hal ini dan tidak langsung bereaksi tanpa berpikir lebih dulu.
 
Jika suatu berita terasa terlalu sensasional atau terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, mereka akan mengambil waktu sejenak untuk mengevaluasi apakah berita itu benar atau hanya sekadar clickbait.
 
6. Paham Bahwa Tidak Semua Hal Pasti Benar
 
Orang yang pintar dalam memilah informasi tidak mencari kepastian mutlak dalam setiap berita.  Mereka memahami bahwa dalam dunia informasi, ada banyak area abu-abu dan kebenaran bisa berkembang seiring waktu.
 
Alih-alih memaksakan jawaban instan, mereka lebih memilih bersikap skeptis sampai ada bukti kuat yang mendukung suatu klaim. Sikap ini membantu mereka tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan.
 
7. Mengutamakan Kualitas Informasi, Bukan Kuantitas
 
Di zaman di mana informasi berlimpah, orang yang cerdas lebih memilih untuk mengonsumsi berita berkualitas daripada sekadar membaca sebanyak mungkin tanpa menyaringnya.
 
Mereka lebih fokus pada laporan mendalam dan analisis yang kredibel dibandingkan berita yang hanya berisi judul bombastis tetapi minim isi. 
 
Dengan begitu, mereka bisa memahami suatu isu secara lebih mendalam dan tidak mudah termakan hoaks.
 
8. Selalu Penasaran dan Mau Belajar
 
Rasa ingin tahu yang tinggi adalah salah satu senjata utama orang yang tidak mudah tertipu berita palsu. Mereka tidak puas dengan informasi di permukaan, melainkan terus mencari tahu lebih dalam untuk memahami konteks sebenarnya.
 
Jika ada berita yang mencurigakan, mereka tidak hanya berhenti di satu sumber tetapi terus mencari informasi lain yang bisa memperjelas kebenarannya. Sikap ini membuat mereka lebih sulit diperdaya oleh berita palsu.
 
9. Bersikap Empati dan Terbuka terhadap Pandangan Lain
 
Mungkin terdengar tidak berhubungan, tetapi empati ternyata memainkan peran besar dalam cara seseorang menerima informasi. Termasuk mereka yang tak terjebak hoaks dan berita bohong.
 
Orang yang bisa memahami sudut pandang orang lain lebih cenderung terbuka terhadap perspektif baru yang membantu mereka tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.
 
Ketika membaca berita, mereka tidak hanya melihat dari sudut pandang pribadi tetapi juga mempertimbangkan bagaimana informasi tersebut memengaruhi orang lain. Dengan begitu, mereka bisa lebih objektif dalam menilai suatu berita.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore