
Ilustrasi pasangan yang menyimpan trauma masa lalu. (Freepik)
JawaPos.com – Ada batasan tipis antara membawa beban dari hubungan masa lalu dan membiarkan mempengaruhi hubungan baru kita. Seringkali, mereka tanpa sadar membiarkan luka masa lalunya menentukan perilaku mereka saat ini.
Dalam hubungan baru, hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dan ketegangan, semuanya karena masalah yang bahkan tidak ada hubungannya dengan hubungan saat ini.
Dilansir dari Small Business Bonfire, Memahami perilaku trauma karena masa lalu bisa jadi sulit, tetapi jika kita tahu apa yang kita hadapi, semuanya akan menjadi lebih mudah.
Berikut tujuh perilaku yang sering ditunjukkan orang yang masih trauma karena masa lalunya.
1. Kompensasi berlebihan
Luka masa lalu memiliki cara tersendiri untuk membuat kita merasa tidak mampu, yang seringkali membuat kita terlalu memaksakan diri dalam hubungan baru. Mereka mungkin berusaha mengantisipasi kebutuhan pasangannya, tetapi secara berlebihan.
Hal ini membuat mereka selalu mendahulukan keinginan pasangannya, atau terus-menerus berusaha membuat pasangannya terkesan. Meskipun tindakan ini mungkin tampak seperti pasangan yang berdedikasi, tetapi ini seringkali berasal dari rasa takut tidak cukup baik.
Namun, setiap hubungan yang sehat adalah tentang saling memberi dan menerima. Ini tentang mencapai kesepakatan bersama, bukan berusaha keras untuk membuat pasangan kita selalu senang.
Kompensasi yang berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan dan kebencian. Jika kita menyadari diri sendiri atau pasangan kita terus-menerus berusaha untuk membuat orang lain terkesan, sudah waktunya untuk menghadapi luka masa lalu secara bertahap.
2. Menghindari kritik
Salah satu perilaku yang menunjukkan trauma masa lalu tanpa disadari adalah menghindari konflik dengan cara apapun. Ini karena dalam hubungan sebelumnya, perselisihan seringkali meningkat menjadi pertengkaran besar.
Hal ini dapat menguras emosi, dan kita sering tidak membiarkan hal itu terjadi dalam hubungan kita berikutnya. Kita yang memiliki trauma masa lalu cenderung mengalihkan topik pembicaraan atau bahkan setuju dengan pasangan hanya untuk menjaga kedamaian.
Namun, kita tidak menyadari bahwa hal itu dapat membuat hubungan tidak sehat. Menghindari konflik tidak akan menyelesaikan masalah, konflik hanya akan tertunda, dan membiarkan kebencian menumpuk seiring berjalannya waktu.
Hubungan yang sehat memerlukan komunikasi yang terbuka dan kemampuan untuk mengatasi konflik dengan penuh rasa hormat.
3. Mencari kepastian yang konstan

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
