Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Januari 2025 | 22.36 WIB

Bukan Mengejar Kesempurnaan, Inilah Sisi Psikologis Tersembunyi dari Perfeksionisme Menurut Ahli Kejiwaan

Ilustrasi psikologis tersembunyi dari perfeksionisme menurut ahli kejiwaan. (Vecteezy: dao_kp20226443) - Image

Ilustrasi psikologis tersembunyi dari perfeksionisme menurut ahli kejiwaan. (Vecteezy: dao_kp20226443)

JawaPos.com - Perfeksionisme sering kali dianggap sebagai keinginan untuk mencapai kesempurnaan, tanpa kesalahan sedikit pun.

Melalui unggahan video di Instagram-nya, seorang spesialis kedokteran jiwa sekaligus psikiater, dr. Jiemi Ardian mengungkapkan perspektif yang berbeda.

Menurutnya, perfeksionisme bukan sekadar tentang mengejar kesempurnaan, melainkan tentang rasa takut.

Mereka takut mengecewakan orang lain, takut tidak dipandang hebat, takut tidak sesuai ekspektasi, atau bahkan takut direndahkan.

Ia juga mendefinisikan perfeksionis bukan sebagai langkah menuju kesempurnaan, melainkan upaya untuk menghindari ketidaksempurnaan.

Bagi mereka yang mengejar kesempurnaan, perjalanan menuju tujuan adalah tentang terus berproses dan memperbaiki diri.

Mereka mungkin tidak merasa sempurna, tetapi selalu berusaha untuk menjadi lebih baik di hari berikutnya. Progres menjadi hal yang lebih penting daripada hasil akhir.

Sebaliknya, bagi mereka yang berfokus pada menghindari ketidaksempurnaan, setiap kesalahan menjadi ancaman besar yang harus dihindari.

Akibatnya, individu dengan perfeksionisme sering kali merasa bahwa mereka harus terus berusaha untuk menghindari rasa malu atau penolakan.

Hal ini bisa menyebabkan rasa cemas berlebihan yang pada akhirnya justru menghambat kemajuan dan memperburuk kesejahteraan psikologis.

dr. Jiemi juga menjelaskan bahwa kecenderungan tersebut dapat membuat seseorang merasa kelelahan secara fisik dan mental.

Mengatasi perfeksionisme memerlukan kesadaran dan perubahan pola pikir, maka penting untuk menyadari bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari proses belajar dan berkembang, bukan kegagalan yang harus dihindari.

Ketika fokus pada "harus sempurna" diubah menjadi "terus berproses" maka akan merasa lebih ringan dan lebih mudah untuk menerima diri apa adanya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore