Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Januari 2025 | 00.47 WIB

Sering Merasa Takut? 8 Faktor yang Menyebabkan Ketidakamanan dan Memicu Perasaan Tidak Percaya Diri

Ilustrasi orang tidak nyaman (Vitaly Gariev/pexels.com) - Image

Ilustrasi orang tidak nyaman (Vitaly Gariev/pexels.com)

JawaPos.com - Menurut Aimee Daramus, PsyD, seorang psikolog klinis di Clarity Clinic, Chicago, ketidakamanan seringkali muncul dari keyakinan mendalam bahwa kita telah gagal dalam memenuhi standar pribadi yang sangat tinggi atau harapan orang lain.

Perasaan ini dapat membuat kita merasa tidak cukup baik, tidak berharga, atau bahkan tidak layak guna memperoleh hal-hal positif dalam hidup. Dirangkum dari verywellmind.com, berikut ini berbagai faktor yang menyebabkan ketidakamanan dan memicu perasaan tidak percaya diri.

1. Pola asuh

Kurangnya kasih sayang, dukungan, atau penguatan positif dari orang-orang yang mengasuhmu di masa kecil bisa berdampak besar pada rasa percaya diri dan harga dirimu. Jika orang-orang yang seharusnya memberikan cinta tanpa syarat tidak melakukannya, kamu mungkin tidak mengembangkan kemampuan untuk mencintai diri sendiri.

Perasaan tersebut dapat mengurangi rasa percaya dirimu dan memengaruhi bagaimana kamu memandang serta menghargai diri sendiri sepanjang hidup. Ketidakpastian ini bisa membentuk caramu berinteraksi dengan dunia sekitar dan memengaruhi hubungan serta keputusan yang dibuat, karena kamu mungkin terus meragukan kemampuan dan nilai dirimu.

2. Tekanan orang tua

Tekanan yang diberikan oleh orang tua dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan rasa percaya diri seorang anak. Apabila sejak kecil kamu sering dibebani dengan tuntutan berprestasi yang berlebihan atau diberikan tanggung jawab yang terasa terlalu berat bagi kemampuanmu, hal ini bisa menumbuhkan perasaan tidak mampu atau gagal.

Dr. Daramus menerangkan bahwa dalam situasi seperti ini, anak bisa tumbuh dengan rasa rendah diri, merasa tidak pernah cukup baik, dan bahkan merasakan dirinya sebagai pecundang. Tekanan semacam ini dapat membentuk cara pandang anak terhadap dirinya sendiri dan dunia sekitarnya yang mungkin berlanjut hingga dewasa.

3. Kekerasan

Pengalaman negatif yang dialami, seperti kekerasan dalam rumah tangga, perundungan, penolakan, atau kritik yang tajam bisa menimbulkan bekas luka emosional yang dalam dan bertahan lama. Dr. Daramus menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa ini tidak hanya menyakitkan saat terjadi, tetapi juga bisa meninggalkan dampak psikologis yang kuat yang berpengaruh dalam jangka panjang.

Jika sejak kecilmu sering mengalami perlakuan yang merendahkan atau ditolak oleh orang-orang terdekat, kamu mungkin mulai meyakini bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirimu. Keyakinan ini muncul akibat perlakuan negatif yang terus-menerus, bisa membentuk persepsi diri yang buruk dan membuat perasaan tidak aman semakin dalam, memengaruhi caramu melihat diri sendiri dan berinteraksi dengan dunia sekitar.

4. Trauma

Pengalaman traumatis, baik fisik, emosional, atau psikologis dapat meninggalkan dampak mendalam pada rasa aman seseorang, membuatnya merasa rentan dan kehilangan kontrol. Perasaan tidak aman ini dapat merusak harga diri, membuatmu merasa tidak cukup baik atau tidak layak mendapat perlindungan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore