Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 Januari 2025, 23.55 WIB

FOMO Bisa Menyebabkan Gangguan Mental, Akibatnya Memicu Kecemasan Sosial

Foto: ilustrasi sering mengecek hp karena FOMO (Freepik) - Image

Foto: ilustrasi sering mengecek hp karena FOMO (Freepik)

JawaPos.com - Koneksi tanpa batas di dunia digital, kini menjadi sebuah paradoks. Karena dinilai mempunyai potensi kecemasan sosial yang lebih intens, khususnya perbincangan yang terjadi di ruang daring. Mengapa hal itu bisa terjadi ?

 
Kebiasaan berinteraksi secara daring yang dinilai praktis, seringkali menghilangkan nuansa nonverbal yang penting dalam komuniksi tatap muka. Terlebih membaca mimik wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh yang memperkaya makna pesan, lenyap di balik pesan teks.
 
Isyarat nonverbal yang tidak hadir ini menjadikan ambiguitas saat menafsirkan sebuah pesan. Seperti halnya saat sebuah kalimat yang sederhana bisa disalahartikan sehingga memicu kecemasan.
 
Seringkali ruang chat memberikan fitur kepada pengguna untuk menyunting dan menunda respon. Sehingga hal tersebut menciptakan tekanan untuk memberikan jawaban yang "sempurna".
 
Akibat dorongan supaya menjadi pribadi yang sempurna di ruang digital ini, justru memicu kecemasan. Karena setiap makna pesan yang dikirm seolah menjadi representasi diri yang dinilai.
 
Selain itu, sejumlah platform daring sering menawarkan fitur anonimitas mengakibatkan munculnya dorongan perilaku negatif. Sehingga perundungan siber dan komentar pedas lebih mudah untuk dilontarkan.
 
 
Komentar negatif di ruang chat bisa sangat menyakitkan dan memicu kecemasan sosial. Korban merasa malu dan takut dinilai negatif oleh orang lain.
 
Fenomena fear of missing out (FOMO) juga berperan dalam meningkatkan kecemasan di ruang chat. Seseorang takut tertinggal informasi atau percakapan penting.
 
Ketakutan akan ketinggalan informasi ini mendorong seseorang untuk terus-menerus memantau ruang chat. Hal ini memicu stres dan kelelahan mental.
 
Notifikasi yang berdatangan tanpa henti juga dapat mengganggu konsentrasi dan meningkatkan kecemasan. Pikiran terus terpaku pada interaksi daring.
 
Perbandingan sosial juga lebih mudah terjadi di ruang chat. Seseorang bisa membandingkan dirinya dengan orang lain berdasarkan status atau jumlah teman.
 
Perbandingan yang konstan ini dapat memicu perasaan rendah diri dan meningkatkan kecemasan sosial. Seseorang merasa tidak cukup baik.
 
Kurangnya interaksi tatap muka yang berkualitas juga berkontribusi pada peningkatan kecemasan. Manusia pada dasarnya makhluk sosial yang butuh interaksi langsung.
 
Interaksi daring yang berlebihan dapat mengisolasi seseorang dari dunia nyata. Hal ini berdampak buruk bagi kesehatan mental dan emosional.
 
Oleh karena itu, penting untuk bijak dalam menggunakan ruang chat. Seimbangkan interaksi daring dengan interaksi tatap muka yang bermakna.
 
Dengan pemanfaatan yang bijak, ruang chat dapat menjadi sarana komunikasi yang positif. Bukan justru menjadi sumber kecemasan sosial yang meresahkan.
Semoga artikel ini bermanfaat.***
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore