
Cara ubah FOMO jadi pengembangan diri menurut psikologi. (Freepik/freepik)
JawaPos.com – Fenomena FOMO atau Fear of Missing Out (takut ketinggalan) sering dianggap sebagai kelemahan, tetapi menurut psikologi, hal ini bisa diubah menjadi kekuatan untuk pengembangan diri.
Seseorang dapat memanfaatkan rasa ingin tahu dan motivasi yang muncul darinya untuk mendorong pencapaian baru dalam hidup. Mengelola FOMO dengan tepat dapat membuka jalan menuju pengembangan diri yang lebih baik.
Dilansir dari Hack Spirit pada Selasa (24/12), diterangkan bahwa terdapat delapan cara untuk mengubah FOMO alias Fear of Missing Out menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pengembangan diri menurut Psikologi.
Ketidakpastian merupakan pemicu utama FOMO yang sering membuat kita gelisah dan resah. Namun, alih-alih membiarkan ketidakpastian ini melumpuhkan, kita bisa menggunakannya sebagai pendorong untuk maju.
Ketika FOMO muncul, anggap saja itu sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang baru dan berpotensi menarik yang bisa kita ikuti. Penting untuk tetap seimbang dalam menghadapinya - gunakan FOMO sebagai motivasi, tapi tetap berpegang pada prinsip dan jalan hidup sendiri.
FOMO bisa menjadi alarm yang mengingatkan bahwa kita memiliki potensi untuk berkembang. Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik gunakan energi ini untuk merefleksikan aspirasi sendiri dan mengambil langkah konkret untuk mencapainya.
Yang terpenting bukanlah mengejar atau menyamai orang lain, melainkan tumbuh sesuai dengan ritme dan arah yang kita inginkan. FOMO justru bisa menjadi pendorong untuk menetapkan dan mengejar tujuan personal yang bermakna.
Dalam era digital ini, media sosial seringkali memperkuat FOMO yang kita rasakan. Riset menunjukkan bahwa melatih kesadaran penuh (mindfulness) dapat membantu mengurangi perasaan FOMO.
Dengan mindfulness, kita bisa lebih fokus pada pengalaman dan perasaan sendiri, alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain. Saat FOMO muncul, tarik napas dalam-dalam dan ingatkan diri untuk tetap berada di masa kini.
Rasa syukur adalah alat yang sangat ampuh untuk mengubah FOMO menjadi pertumbuhan pribadi. Ketika FOMO menyerang, luangkan waktu untuk mencatat beberapa hal yang patut disyukuri.
Dengan berfokus pada rasa syukur, kita bisa menggeser perspektif dari apa yang terlewatkan menjadi apa yang sudah kita miliki dan raih dalam hidup. Rasa syukur juga membantu menumbuhkan perasaan puas dan bermakna.
Mengatakan 'ya' pada segala sesuatu bukanlah solusi untuk FOMO. Yang benar-benar penting adalah mengenali batasan diri dan menghargainya. Tidak masalah jika kamu tidak menghadiri setiap acara sosial atau mengambil setiap proyek di tempat kerja.
Di akhir hari, pertumbuhan pribadi bukan tentang melakukan segalanya, tapi tentang melakukan apa yang selaras dengan nilai-nilai dan berkontribusi pada kesejahteraan diri.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
