Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Desember 2024 | 21.49 WIB

8 Cara Ubah FOMO Jadi Kekuatan Pengembangan Diri Menurut Psikologi, Begini Penjelasannya!

Cara ubah FOMO jadi pengembangan diri menurut psikologi. (Freepik/freepik) - Image

Cara ubah FOMO jadi pengembangan diri menurut psikologi. (Freepik/freepik)

JawaPos.com – Fenomena FOMO atau Fear of Missing Out (takut ketinggalan) sering dianggap sebagai kelemahan, tetapi menurut psikologi, hal ini bisa diubah menjadi kekuatan untuk pengembangan diri.

Seseorang dapat memanfaatkan rasa ingin tahu dan motivasi yang muncul darinya untuk mendorong pencapaian baru dalam hidup. Mengelola FOMO dengan tepat dapat membuka jalan menuju pengembangan diri yang lebih baik.

Dilansir dari Hack Spirit pada Selasa (24/12), diterangkan bahwa terdapat delapan cara untuk mengubah FOMO alias Fear of Missing Out menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pengembangan diri menurut Psikologi.

  1. Menerima ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan pemicu utama FOMO yang sering membuat kita gelisah dan resah. Namun, alih-alih membiarkan ketidakpastian ini melumpuhkan, kita bisa menggunakannya sebagai pendorong untuk maju.

Ketika FOMO muncul, anggap saja itu sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang baru dan berpotensi menarik yang bisa kita ikuti. Penting untuk tetap seimbang dalam menghadapinya - gunakan FOMO sebagai motivasi, tapi tetap berpegang pada prinsip dan jalan hidup sendiri.

  1. Menetapkan tujuan pribadi

FOMO bisa menjadi alarm yang mengingatkan bahwa kita memiliki potensi untuk berkembang. Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik gunakan energi ini untuk merefleksikan aspirasi sendiri dan mengambil langkah konkret untuk mencapainya.

Yang terpenting bukanlah mengejar atau menyamai orang lain, melainkan tumbuh sesuai dengan ritme dan arah yang kita inginkan. FOMO justru bisa menjadi pendorong untuk menetapkan dan mengejar tujuan personal yang bermakna.

  1. Melatih kesadaran penuh

Dalam era digital ini, media sosial seringkali memperkuat FOMO yang kita rasakan. Riset menunjukkan bahwa melatih kesadaran penuh (mindfulness) dapat membantu mengurangi perasaan FOMO.

Dengan mindfulness, kita bisa lebih fokus pada pengalaman dan perasaan sendiri, alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain. Saat FOMO muncul, tarik napas dalam-dalam dan ingatkan diri untuk tetap berada di masa kini.

  1. Mengembangkan rasa syukur

Rasa syukur adalah alat yang sangat ampuh untuk mengubah FOMO menjadi pertumbuhan pribadi. Ketika FOMO menyerang, luangkan waktu untuk mencatat beberapa hal yang patut disyukuri.

Dengan berfokus pada rasa syukur, kita bisa menggeser perspektif dari apa yang terlewatkan menjadi apa yang sudah kita miliki dan raih dalam hidup. Rasa syukur juga membantu menumbuhkan perasaan puas dan bermakna.

  1. Belajar mengatakan tidak

Mengatakan 'ya' pada segala sesuatu bukanlah solusi untuk FOMO. Yang benar-benar penting adalah mengenali batasan diri dan menghargainya. Tidak masalah jika kamu tidak menghadiri setiap acara sosial atau mengambil setiap proyek di tempat kerja.

Di akhir hari, pertumbuhan pribadi bukan tentang melakukan segalanya, tapi tentang melakukan apa yang selaras dengan nilai-nilai dan berkontribusi pada kesejahteraan diri.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore