Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 Januari 2025, 00.01 WIB

Seni Hidup Lambat alias Slow Living: Ini 7 Kebiasaan yang Harus Ditinggalkan demi Kehidupan yang Lebih Tenang dan Tanpa Stres Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang menjalani hidup lambat dengan tenang. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang menjalani hidup lambat dengan tenang. (Freepik)

JawaPos.com – Dalam kehidupan modern yang serbacepat, banyak orang merasa terjebak dalam lingkaran stres dan kelelahan.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (3/1), psikologi modern menyarankan bahwa memperlambat ritme hidup dapat membawa ketenangan dan kebahagiaan yang lebih mendalam. 

Seni hidup lambat, atau dikenal sebagai "slow living," adalah pendekatan yang mengutamakan kualitas daripada kuantitas dalam segala aspek kehidupan

Untuk memulai perjalanan ini, ada beberapa kebiasaan yang perlu ditinggalkan. Berikut tujuh kebiasaan tersebut menurut pandangan psikologi.

1. Multitasking berlebihan

Multitasking sering dianggap sebagai tanda produktivitas, tetapi penelitian psikologi menunjukkan bahwa ini dapat menyebabkan stres dan menurunkan efisiensi. Otak manusia tidak dirancang untuk fokus pada banyak tugas sekaligus. 

Ketika anda mencoba menyelesaikan terlalu banyak hal dalam waktu yang bersamaan, konsentrasi menurun, dan kualitas pekerjaan sering kali menjadi buruk.

Solusi: Fokuslah pada satu tugas pada satu waktu. Gunakan teknik seperti metode Pomodoro untuk meningkatkan produktivitas tanpa merasa terburu-buru.

2. Kebiasaan overthinking

Memikirkan sesuatu secara berlebihan sering kali menjadi penyebab utama stres. 

Overthinking dapat membuat seseorang merasa terjebak dalam pikiran negatif, mengurangi kemampuan untuk mengambil keputusan, dan menghambat kemajuan pribadi.

Solusi: Latih mindfulness untuk membantu anda tetap berada di saat ini. Teknik seperti meditasi dan latihan pernapasan dapat membantu menenangkan pikiran yang berputar-putar.

3. Mengejar kesempurnaan

Perfeksionisme adalah jebakan yang sering kali menciptakan tekanan yang tidak perlu. Menurut psikologi, mengejar standar yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kelelahan emosional dan ketidakpuasan kronis, bahkan ketika tujuan tercapai.

Solusi: Belajarlah untuk menerima ketidaksempurnaan. Fokus pada progres, bukan hasil akhir yang sempurna. Ingatlah bahwa kesalahan adalah bagian alami dari pertumbuhan.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore