Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Desember 2024 | 15.14 WIB

Jika Anda Ingin Anak Anda Tumbuh Menjadi Orang Baik, Ucapkan Selamat Tinggal pada 5 Perilaku Ini, Apa Saja?

Perilaku orang tua yang menikmati hubungan dekat dengan anak dewasa mereka menurut Psikologi - Image

Perilaku orang tua yang menikmati hubungan dekat dengan anak dewasa mereka menurut Psikologi

JawaPos.com - Membesarkan anak agar menjadi orang baik bukan hanya tentang mengajarkan mereka sopan santun. Ini tentang apa yang kita lakukan dan apa yang kita katakan.

Terkadang, perilaku kita sendiri, meskipun tidak disengaja, dapat membawa anak-anak kita ke jalan yang tidak kita inginkan.

Dan bagian yang sulit? Kita sering kali begitu sibuk dengan rutinitas sehari-hari sehingga kita bahkan tidak menyadari kebiasaan-kebiasaan ini.

Itulah sebabnya, dalam artikel yang dikutip dari geediting.com, kami telah menyusun daftar 5 perilaku yang mungkin perlu Anda tinggalkan jika Anda ingin anak Anda tumbuh menjadi manusia yang baik. Baca terus, dan mari kita jalani peran sebagai orang tua bersama.

1. Terlalu protektif

Kita semua ingin menjaga anak-anak kita aman dari bahaya. Namun, terlalu banyak hal ini dapat sama merusaknya dengan kurangnya hal ini.

Mengapa? Karena perlindungan yang berlebihan dapat menyebabkan anak merasa tidak mampu dan bergantung. Mereka mungkin tumbuh menjadi kurang percaya diri dan kesulitan membuat keputusan sendiri.

Hal ini didukung dengan baik oleh para ahli. Misalnya, Nicole Arzt, seorang Terapis Pernikahan & Keluarga Berlisensi, yang telah mencatat, "Jika orang tua selalu menyelamatkan anak mereka dari bahaya, anak tersebut tidak akan pernah benar-benar memahami risiko atau kegagalan. Akibatnya, mereka mungkin tumbuh menjadi orang yang naif terhadap realitas kehidupan di dunia nyata."

2. Perfeksionisme

Tuntutan orang tua akan kesempurnaan justru lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat.

Tuntutan itu menghambat kreativitasnya dan merusak harga dirinya. Jadi, putuskanlah untuk mundur selangkah. Alih-alih berfokus pada kesalahan, saya mulai memuji usahanya.

Dan coba tebak? Kepercayaan dirinya melambung tinggi.

3. Mengabaikan perasaan mereka

Mudah untuk menganggap masalah anak-anak kita sebagai hal yang remeh. Lagi pula, seberapa seriuskah masalah mereka jika dibandingkan dengan kerumitan yang dihadapi orang dewasa?

Para ahli, seperti di Psych Central , menekankan bahwa tidak memvalidasi emosi anak-anak dapat menyebabkan keterikatan yang tidak aman dan keterampilan mengatasi masalah yang buruk saat mereka tumbuh.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore