
Ilustrasi anak dan orang tuanya.
JawaPos.com – Membangun hubungan dengan anak bukanlah hal yang mampu menghormati orang tua tidak bisa terjadi begitu saja. Semua itu dimulai sejak dini, ketika orang tua menciptakan pola asuh yang penuh kasih namun tetap berpegang pada nilai-nilai penting.
Sayangnya, tanpa disadari, ada sejumlah kebiasaan yang dapat menghambat terbentuknya rasa hormat dari anak terhadap orang tuanya di masa depan. Perilaku ini mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa sangat besar menurut Psikologi.
Dilansir dari Hack Spirit pada Rabu (18/12), diterangkan bahwa setidaknya terdapat tujuh kebiasaan yang harus ditinggalkan ketika kamu ingin anak dapat menghormati kamu saat mereka tumbuh dewasa menurut Psikologi.
1. Ceramah tanpa mendengarkan
Orangtua sering terjebak dalam pola komunikasi yang didominasi oleh ceramah panjang. Padahal, buah hati membutuhkan ruang untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaan mereka. Mendengarkan bukanlah sekadar menunggu giliran berbicara, melainkan benar-benar memahami perspektif sang anak. Ketika orangtua mampu menciptakan komunikasi dua arah yang setara, anak akan merasa dihargai dan pada gilirannya akan lebih menghormati pandangan orangtua.
2. Enggan mengakui kesalahan
Mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan karakter. Orangtua yang selalu berusaha terlihat sempurna sebenarnya justru mengikis respek anak perlahan-lahan.
Ketika orangtua mampu berkata “Aku salah” atau “Maafkan aku”, mereka menunjukkan kejujuran dan kerendahan hati. Si kecil akan melihat orangtua bukan sebagai sosok yang tidak tersentuh kesalahan, melainkan manusia biasa yang terus belajar dan tumbuh.
3. Membandingkan dengan orang lain
Setiap anak memiliki keunikan dan potensi berbeda yang tidak bisa disamakan dengan siapapun. Kebiasaan membandingkan hanya akan melukai harga diri dan menimbulkan tekanan psikologis pada sang buah hati.
Orangtua sejati adalah mereka yang mampu melihat keistimewaan anaknya sendiri tanpa perlu membandingkannya dengan standar eksternal. Dukungan dan apresiasi terhadap pencapaian individual akan jauh lebih bermakna daripada kritik berkelanjutan.
4. Inkonsistensi dalam aturan
Konsistensi adalah kunci membangun otoritas dan kepercayaan. Ketika orangtua sering mengubah aturan atau tidak konsisten dalam menerapkan konsekuensi, anak akan merasa bingung dan pada akhirnya meragukan kewibawaan orangtua.
Penetapan batasan yang jelas, adil, dan dilaksanakan secara konsisten akan membentuk fondasi respek yang kuat. Aturan bukan sekadar pengekang, melainkan panduan yang membantu anak memahami tanggung jawab.
5. Tidak mempraktikkan apa yang dikatakan

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
