Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 November 2024 | 21.55 WIB

8 Alasan Seseorang yang Sering Membanjiri Media Sosial dengan Foto Anak Mereka Menurut Psikologi, Apa Saja?

Ilustrasi anak dan orang tua (freepik) - Image

Ilustrasi anak dan orang tua (freepik)

JawaPos.com - Media sosial kini penuh dengan foto anak-anak dari pesta ulang tahun, hingga momen keseharian mereka. Meskipun banyak yang menganggap postingan ini menggemaskan, ada juga yang mempertanyakan alasan di balik kebiasaan tersebut.

Menurut psikolog, ada hubungan antara frekuensi membagikan foto anak di media sosial dan pola perilaku tertentu pada orang tua. Memahami perilaku ini dapat membantu orang tua merefleksikan motivasi mereka dan dampaknya terhadap privasi serta kesejahteraan anak.

Dilansir dari laman Global English Editing, Rabu (20/11), berikut adalah delapan perilaku yang biasanya dimiliki oleh orang tua yang sering memposting foto anak-anak mereka.

1. Mengatasi Ketidakpuasan melalui Oversharing
Orang tua yang sering membagikan foto anak mereka di media sosial mungkin secara tidak sadar sedang mengimbangi rasa tidak puas dalam hidupnya. Mereka merasa perlu menampilkan kehidupan keluarga yang sempurna untuk menutupi ketidaknyamanan pribadi atau keraguan terhadap kemampuan menjadi orang tua.

Namun, tindakan ini dapat berujung pada oversharing, yaitu membagikan informasi berlebihan tentang kehidupan anak mereka. Penting bagi orang tua untuk memahami batas antara berbagi cerita dan membocorkan detail pribadi yang tidak perlu.

2. Membentuk Rasa Kebersamaan
Bagi sebagian orang tua, posting foto anak di media sosial bukan hanya tentang diri mereka sendiri, tetapi juga untuk menciptakan rasa kebersamaan. Dalam dunia digital yang luas, berbagi foto anak menjadi jembatan untuk menjalin hubungan dengan orang tua lain.

Kegiatan ini dapat membangun komunitas virtual yang saling mendukung dan berbagi pengalaman. Meskipun begitu, penting untuk tetap menjaga keseimbangan antara koneksi online dan privasi.

3. Mengejar Sensasi Dopamin
Setiap like, komentar, atau share di postingan media sosial memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang menciptakan rasa senang. Orang tua yang merasa senang karena respons positif ini sering kali terdorong untuk memposting lebih banyak.

Namun, jika hal ini menjadi sumber utama validasi diri, maka masalah mendasar seperti kepercayaan diri yang rendah dapat muncul. Media sosial sebaiknya menjadi alat komunikasi, bukan tolak ukur nilai diri.

4. Mencatat Perjalanan Hidup Anak
Bagi sebagian orang tua, media sosial adalah buku kenangan digital untuk mendokumentasikan tumbuh kembang anak mereka. Setiap foto yang diunggah menjadi pengingat momen-momen berharga dalam perjalanan mereka sebagai keluarga.

Meskipun niat ini mulia, penting untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap privasi anak ketika mereka dewasa nanti.

5. Mencari Interaksi Dewasa
Mengasuh anak bisa menjadi peran yang menyita waktu hingga sulit untuk berinteraksi dengan orang dewasa. Media sosial memberikan ruang bagi orang tua untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan dari komunitas online.

Namun, orang tua juga perlu memastikan bahwa interaksi digital ini tidak menggantikan hubungan sosial di dunia nyata.

6. Menghubungkan Keluarga Jarak Jauh
Di era globalisasi, banyak keluarga yang tinggal berjauhan. Membagikan foto anak di media sosial sering kali menjadi cara praktis untuk tetap terhubung dengan keluarga besar.

Namun, orang tua harus tetap menggunakan pengaturan privasi agar hanya orang-orang terdekat yang dapat melihat foto tersebut.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore