Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 November 2024 | 17.11 WIB

Penting untuk Menyadarinya, Kenali 7 Perilaku Orang yang Selalu Menolak Perubahan Menurut Psikologi

Ilustrasi orang yang menolak perubahan./Freepik - Image

Ilustrasi orang yang menolak perubahan./Freepik

JawaPos.com - Sejatinya bahwa hidup memang pasang surut, ada kalanya kita di puncak gunung dan di jurang paling menyeramkan. Perubahan itu tak dapat kita hindari meskipun sering kali menolaknya.

Mengutip dari laman IAIN Madura, mereka yang selalu terpenjara dalam dirinya sendiri dan enggan berubah, bisa karena terjebak pada kesuksesan masa lalu, kegagalan terdahulu, sangat antusias terhadap masa depan, dan sering ragu untuk melangkah.

Meskipun hidup ini memang penuh ketidakpastian, tapi kita tetap terus berusaha dan menyiapkan ruang keikhlasan ketika harapan itu tak sesuai dengan kenyataan.

Melansir dari laman Ge Editing pada (18/11) kenali 7 perilaku orang yang selalu menolak perubahan menurut psikologi, ini penting untuk menyadarinya :

1. Menghindari pengalaman baru

Ini mungkin sesederhana menghindari restoran baru atau sama pentingnya dengan mengabaikan tawaran pekerjaan di kota baru.

Penghindaran ini sering kali berakar pada rasa takut akan hal yang tidak diketahui, takut meninggalkan zona nyaman, atau bahkan takut akan potensi kegagalan.

Penting untuk diingat bahwa ini bukanlah tanda kelemahan atau cacat karakter. Itu hanyalah salah satu cara pikiran mencoba melindungi kita dari bahaya atau ketidaknyamanan yang dirasakan.

Namun mengenali perilaku ini dapat menjadi langkah pertama menuju perubahan dan memperluas wawasan. Penghindaran seperti ini bisa membuatmu kehilangan potensi pertumbuhan dan peluang.

2. Perencanaan yang berlebihan

Ketika dihadapkan pada suatu perubahan, kita mungkin harus membuat rencana yang terperinci, melakukan penelitian, atau terus-menerus merevisi strategi agar hasilnya sebaik mungkin.

Namun terkadang, ini bukan tentang membuat kemajuan melainkan tentang menunda tindakan yang sebenarnya.

Perencanaan yang berlebihan dapat berasal dari ketakutan akan hal yang tidak diketahui atau keinginan untuk mengendalikan hasilnya.

Hal ini memberi kita rasa aman dan dapat diprediksi dalam situasi yang tidak pasti. Sekali lagi, kesadaran adalah kunci, meskipun perencanaan itu penting, tapi juga perlu untuk mengetahui kapan saatnya berhenti dan mulai melakukannya.

3. Merasionalisasikan keterlambatan

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore