Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Oktober 2024 | 01.36 WIB

Orang yang Tumbuh di Lingkungan yang Pilih Kasih Kerap Punya 9 Sifat Ini di Kemudian Hari, Menurut Psikologi

Ilustrasi sifat seseorang yang tumbuh di lingkungan yang pilih kasih menurut Psikologi. - Image

Ilustrasi sifat seseorang yang tumbuh di lingkungan yang pilih kasih menurut Psikologi.

JawaPos.com – Orang yang tumbuh di lingkungan yang penuh dengan pilih kasih seringkali membawa dampak emosional yang besar hingga dewasa. Perlakuan yang tidak adil dari orang tua atau figur otoritas lain bisa meninggalkan luka mendalam, memengaruhi kepercayaan diri dan cara berhubungan dengan orang lain.

Menurut psikologi, pengalaman ini kerap tercermin dalam berbagai sifat atau perilaku yang terbentuk di kemudian hari.

Menyadari pengaruh negatif dari perlakuan pilih kasih ini dapat membantu kita memahami diri sendiri lebih baik dan berupaya untuk mengatasi dampaknya.

Dikutip dari Hack Spirit pada Senin (28/10), diterangkan bahwa terdapat sembilan sifat yang dimiliki seseorang yang tumbuh di lingkungan yang pilih kasih menurut Psikologi.

1. Kepekaan yang meningkat

Mereka yang tumbuh dengan pengalaman favoritisme sering mengembangkan tingkat sensitivitas yang tinggi. Hal ini muncul sebagai mekanisme pertahanan diri, di mana seseorang menjadi sangat peka terhadap perubahan kecil dalam nada suara, ekspresi wajah, dan sikap orang lain.

Meskipun sifat ini dapat meningkatkan empati dan pemahaman terhadap orang lain, ia juga dapat membuat seseorang rentan terhadap salah tafsir dan kecenderungan untuk terlalu personal dalam menyikapi berbagai situasi. Penting untuk diingat bahwa kepekaan ini bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari identitas yang terbentuk dari pengalaman masa lalu.

2. Mengejar kesempurnaan

Tumbuh di bawah bayang-bayang saudara yang lebih disukai dapat mendorong seseorang untuk mengembangkan dorongan obsesif menuju kesempurnaan. Ini mungkin berasal dari keinginan untuk membuktikan diri atau mendapatkan pengakuan yang setara.

Perilaku ini dapat berlanjut hingga dewasa, mendorong seseorang untuk bekerja keras, memenuhi standar yang sangat tinggi, dan terlalu keras pada diri sendiri ketika gagal mencapai tujuan. Meskipun sifat ini dapat mendorong prestasi besar, ia juga berisiko menyebabkan kelelahan dan kritik diri yang berlebihan.

3. Keengganan untuk percaya

Pengalaman favoritisme di masa kecil dapat membuat seseorang lebih sulit untuk mempercayai orang lain di kemudian hari. Kepercayaan dibangun atas dasar keadilan dan konsistensi, dua hal yang sering absen dalam lingkungan di mana favoritisme merajalela.

Akibatnya, banyak orang yang mengalami favoritisme di masa formatif mereka menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan kepercayaan. Memahami sifat ini dapat membantu seseorang mengelola hubungan dengan lebih efektif dan bekerja menuju membangun kepercayaan yang sehat.

4. Ketegasan

Menariknya, menghadapi favoritisme juga dapat memupuk ketegasan. Ketika seseorang telah menghabiskan masa kecilnya merasa diabaikan atau kurang dihargai, mereka belajar untuk menyuarakan pendapat mereka sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore