
Ilustrasi sifat seseorang yang tumbuh di lingkungan yang pilih kasih menurut Psikologi.
JawaPos.com – Orang yang tumbuh di lingkungan yang penuh dengan pilih kasih seringkali membawa dampak emosional yang besar hingga dewasa. Perlakuan yang tidak adil dari orang tua atau figur otoritas lain bisa meninggalkan luka mendalam, memengaruhi kepercayaan diri dan cara berhubungan dengan orang lain.
Menurut psikologi, pengalaman ini kerap tercermin dalam berbagai sifat atau perilaku yang terbentuk di kemudian hari.
Menyadari pengaruh negatif dari perlakuan pilih kasih ini dapat membantu kita memahami diri sendiri lebih baik dan berupaya untuk mengatasi dampaknya.
Dikutip dari Hack Spirit pada Senin (28/10), diterangkan bahwa terdapat sembilan sifat yang dimiliki seseorang yang tumbuh di lingkungan yang pilih kasih menurut Psikologi.
1. Kepekaan yang meningkat
Mereka yang tumbuh dengan pengalaman favoritisme sering mengembangkan tingkat sensitivitas yang tinggi. Hal ini muncul sebagai mekanisme pertahanan diri, di mana seseorang menjadi sangat peka terhadap perubahan kecil dalam nada suara, ekspresi wajah, dan sikap orang lain.
Meskipun sifat ini dapat meningkatkan empati dan pemahaman terhadap orang lain, ia juga dapat membuat seseorang rentan terhadap salah tafsir dan kecenderungan untuk terlalu personal dalam menyikapi berbagai situasi. Penting untuk diingat bahwa kepekaan ini bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari identitas yang terbentuk dari pengalaman masa lalu.
2. Mengejar kesempurnaan
Tumbuh di bawah bayang-bayang saudara yang lebih disukai dapat mendorong seseorang untuk mengembangkan dorongan obsesif menuju kesempurnaan. Ini mungkin berasal dari keinginan untuk membuktikan diri atau mendapatkan pengakuan yang setara.
Perilaku ini dapat berlanjut hingga dewasa, mendorong seseorang untuk bekerja keras, memenuhi standar yang sangat tinggi, dan terlalu keras pada diri sendiri ketika gagal mencapai tujuan. Meskipun sifat ini dapat mendorong prestasi besar, ia juga berisiko menyebabkan kelelahan dan kritik diri yang berlebihan.
3. Keengganan untuk percaya
Pengalaman favoritisme di masa kecil dapat membuat seseorang lebih sulit untuk mempercayai orang lain di kemudian hari. Kepercayaan dibangun atas dasar keadilan dan konsistensi, dua hal yang sering absen dalam lingkungan di mana favoritisme merajalela.
Akibatnya, banyak orang yang mengalami favoritisme di masa formatif mereka menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan kepercayaan. Memahami sifat ini dapat membantu seseorang mengelola hubungan dengan lebih efektif dan bekerja menuju membangun kepercayaan yang sehat.
4. Ketegasan
Menariknya, menghadapi favoritisme juga dapat memupuk ketegasan. Ketika seseorang telah menghabiskan masa kecilnya merasa diabaikan atau kurang dihargai, mereka belajar untuk menyuarakan pendapat mereka sendiri.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
