Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Oktober 2024 | 18.32 WIB

Kenali Sebelum Bertambah Buruk, 6 Jenis Inner Child yang Terjadi saat Masih Kecil dan Cara Menyembuhkannya

Ilustrasi inner child terluka. - Image

Ilustrasi inner child terluka.

JawaPos.com - Hampir setiap orang membawa luka dari masa kanak-kanak, seringkali akibat pengalaman negatif dengan orang tua, pengasuh, atau figur otoritas lainnya. Ini dapat menghasilkan apa yang sering disebut sebagai inner child.

Merawat inner child adalah proses yang melibatkan peninjauan luka-luka ini, sebab berkontribusi pada kebiasaan, pola, dan sinyal perilaku yang kita tunjukkan di kemudian hari. Proses ini dikenal sebagai trauma loop. Dengan menyembuhkan luka batin anak kecil, kamu bisa menghentikan siklus reaksi yang memicu perilaku disfungsional.

Hal ini, pada gilirannya, akan meningkatkan kualitas hubunganmu, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Merangkum theprivatetherapyclinic.co.uk, berikut jenis inner child yang terjadi saat masih kecil dan cara menyembuhkannya agar tidak berdampak buruk bagi kehidupanmu.

1. Luka pengabaian

Luka ini berasal dari ketidakhadiran figur orang tua atau pengasuh, maupun pengalaman ditinggalkan saat masih muda. Pengalaman ini bisa menimbulkan ketakutan akan penolakan dalam hubungan di masa depan.

Contohnya, Tom mungkin merasa kesal karena pacarnya tidak membalas pesan-pesannya. Ia khawatir jika pacarnya tidak lagi tertarik dan akan meninggalkannya, sehingga ini mengulangi pengalaman ditinggalkan yang pernah dialaminya.

Akibatnya, Tom menjadi sangat bergantung dan membutuhkan perhatian yang justru membuat pacarnya menjauh. Situasi ini memperkuat narasi yang dipercayai, di mana lingkaran trauma ini terus berlanjut dalam hubungan-hubungan selanjutnya.

2. Luka batin anak 1: Luka karena kelalaian

Pengabaian kadang disamakan dengan kelalaian, karena keduanya bisa saling berkaitan. Sayangnya, pengabaian lebih spesifik merujuk pada pengalaman diabaikan, dilupakan, atau tidak diperhatikan yang dapat menimbulkan perasaan tidak layak untuk memperoleh kasih sayang dan perhatian.

Misalnya, Rachel merasa tidak pantas mendapatkan cinta dan perhatian dari pasangannya sebab ia tidak pernah menerima hal itu dari orang tuanya. Hal ini membuatnya terus-menerus meragukan perasaan pasangannya terhadapnya yang pada akhirnya memicu ketegangan dalam hubungan mereka.

3. Luka batin anak 2: Luka emosional

Jenis luka ini sering dialami anak-anak karena kerusakan emosional mudah terjadi. Luka ini muncul ketika emosi tidak diakui atau diabaikan, mengganggu stabilitas emosional. Pemicu tertentu bisa menghidupkan kembali trauma dan membuat seseorang merasakan kembali pengalaman dan emosi dari masa lalu.

Contohnya, John kesulitan mengekspresikan emosinya dan cenderung menutup diri saat merasa kewalahan. Hal ini membuat pasangannya merasa bahwa ia jauh dan tidak responsif, hingga mengarah pada konflik dan kesalahpahaman. Situasi ini disebabkan oleh harga diri John yang rendah dan rasa tidak berharga sebab tidak dihargai selama masa kecilnya.

4. Luka anak batin 3: Luka fisik

Luka ini terjadi saat seorang anak mengalami kekerasan fisik secara berulang-ulang. Ini berdampak pada kemampuannya untuk merasa aman dan mempercayai orang lain. Pengalaman kekerasan yang konsisten ini menciptakan rasa takut yang mendalam, sehingga anak tersebut mungkin merasa terancam dalam hubungan sosialnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore