
Sejumlah Pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) saat antre menunggu giliran untuk mengikuti vaksinasi COVID-19 di yayasan jamrud biru di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/8/2021). Sebanyak 70 pasien ODGJ mengikuti kegiatan vaksinasi merdeka guna mencegah peny
JawaPos.com – Stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih sangat kuat di masyarakat. Salah satu bentuk stigma yang paling sering muncul adalah penggunaan istilah “orang gila.”
Padahal, menyebut ODGJ sebagai orang gila bukan cuma tak pantas, tetapi juga dapat memperparah diskriminasi dan memperburuk kondisi mental mereka. Yuk, pahami tentang ODGJ berikut ini!
Sebagaimana dilansir dari Halodoc, berikut sejumlah alasan yang perlu kamu pahami terkait konotasi panggilan orang gila terhadap ODGJ:
1. Mengandung konotasi negatif dan terkesan menghina
Istilah “orang gila” secara historis digunakan untuk merendahkan dan menghina individu yang mengalami gangguan mental.
Konotasi negatif ini membawa beban berat yang memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap ODGJ.
Dengan menggunakan istilah tersebut, kamu secara tidak langsung menempatkan mereka dalam posisi yang lebih rendah.
Hal ini seolah-olah mereka adalah manusia yang tidak layak mendapatkan rasa hormat atau perlakuan yang setara.
Penggunaan kata-kata ini tidak hanya menyakitkan tetapi juga menunjukkan kurangnya pemahaman dan empati terhadap kondisi mereka.
2. Meningkatkan stigma tertentu bahkan diskriminasi
Stigma terhadap ODGJ juga sangat merugikan. Ketika seseorang disebut sebagai “orang gila,” masyarakat cenderung melihat mereka sebagai ancaman atau beban sosial, bukan sebagai individu yang membutuhkan dukungan.
Itu sebabnya, stigma tersebut bisa menghambat ODGJ untuk mencari bantuan atau mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.
Stigma yang terus ada ini bisa bisa menyebabkan isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, dan bahkan memperburuk kondisi kesehatan mental ODGJ.
3. Memperburuk kondisi mental ODGJ
Menyebut ODGJ dengan istilah yang merendahkan juga bisa memperburuk kondisi mental mereka.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
