Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Agustus 2024 | 00.25 WIB

Kepribadian Orang Yang Berjalan Cepat Punya Dampak Lebih Positif Daripada Berjalan Lambat Berikut Penjelasannya

Orang Yang Berjalan Cepat Punya Dampak Lebih Positif Daripada Berjalan Lambat (Freepik)

 

JawaPos.com- Saat berjalan orang memiliki banyak tipe dan gaya. Diantaranya ada yang berjalan cepat dan lambat. Dari kedua gaya berjalan tersebut ternyata masing-masing dapat mengungkapkan kepribadian seseorang.

Selain itu menurut penelitian yang dikutip oleh JawaPos.com, Kamis (15/8) di laman spring.org.uk mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara cara berjalan seseorang dengan kepribadiannya.

Orang yang berjalan cepat cenderung memiliki kepribadian yang  ekstrovert, teliti, dan terbuka terhadap pengalaman baru. Namun seiring bertambahnya usia, orang cenderung berjalan lebih lambat.

Meskipun begitu mereka yang memiliki ekstraversi, kehati-hatian, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru tidak mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Stephan et al tahun 2017, seperti dilansir oleh spring.org.uk, bahwa studi tersebut memberikan bukti kuat bahwa kecepatan berjalan di masa dewasa sebagian mencerminkan kepribadian individu yang sebenarnya.

Penelitian tersebut telah melibatkan lebih dari 15 ribu orang berusia antara 25 dan 100 tahun. Mereka diberikan tes kepribadian dan gaya berjalan mereka, dan dinilai berdasarkan cara berjalan mereka.

Dari penelitian tersebut menghasilkan bahwa ekstraversi dan kesadaran adalah korelasi kepribadian yang paling konsisten dengan kecepatan berjalan.

Individu yang aktif dan antusias serta mereka yang memiliki disiplin diri dan organisasi, akan berjalan lebih cepat dan mengurangi kecepatan berjalan seiring waktu.

Namun, orang dengan kepribadian neurotik cenderung berjalan lebih lambat. Banyak penelitian telah mengaitkan berjalan lambat dengan segala macam dampak negatif. Mengapa demikian?

Gaya berjalan yang lebih lambat merupakan prediksi dari berbagai dampak buruk, termasuk kesehatan mental yang buruk, risiko lebih tinggi terhadap keterbatasan fungsional dan kecacatan, gangguan kognisi dan insiden demensia, dan pada akhirnya risiko kematian yang lebih tinggi.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore