
Orang sedang melakukan mirror selfie (The Guardian)
JawaPos.com - Mirror selfie menjadi trend anak muda kini. Sebab mereka tak perlu repot-repot untuk membawa tripot atau tak perlu sibuk mencari orang lain untuk memfotokan dirinya. Sehingga satu-satunya cara yakni dengan mirror selfie.
Saat melakukan mirror selfie biasanya mereka berada di tempat-tempat tertentu, seperti kamar hotel, kamar mandi, atau tempat yang menurut mereka estetik dan juga terdapat cerimin didalamnya.
Mirror selfie artinya seseorang berfoto secara mandiri dengan kemare belakang. Sehingga memberikan foto refleksi Anda sendiri. Kamera belakang dan susasana lebih intim juga akan terlihat di foto tersebut.
Berdasarkan dari pantauan JawaPos.com yang dikutip dari laman The Guardian beberapa orang telah memaparkan tentang psikologi orang yang sering melakukan mirror selfie.
Salah satunya yakni Susie Lau, dia dikenal oleh lebih dari 510 ribu penggemar sebagai Susie Bubble. Dia diketahui sering memposting foto selfi yang diambil di kamar mandinya. Tetapi apakah foto-foto tersebut itu benar-bener diambil di cermin kamar mandi?
Dia pun mengatakan bahwa dia menyukai spontanitas dan menganggapnya itu lucu. Dengan foto selfie orang-orang berusaha keras untuk memalsukan sesuatu yang dapat dicapai dengan begitu mudah.
Sementara itu Erica Davies seorang influencer, seperti dikutip The Guardian, juga memposting mirror selfie yang diambil di cermin aula dan kamar tidurnya. Dia pun mengungkapkan bahwa dengan mirror selfie dia dengan mudah menunjukkan fashion dan sedikit interiornya.
Jadi dengan melihat di cermin, dia bisa menampilkan pakaian dan sedikit rumahnya. Dia pun juga tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan tripot untuk melakukan mirror selfie.
Lantas bagaimana pendapat para ahli tentang mirror selfie? Menurut Derek Conrad Murray, ahli teori sejarah seni dan budaya visual di University of California, Santa Cruz mengatakan dalam budaya online, terdapat kesadaran yang menganggap kepalsuan sebagai sistem nilai dan strategi estetika. Kepalsuan adalah bagian dari kesenangan.
Mirror selfie menjelaskan aspek-aspek tertentu dari budaya internet. Sebuah kelas dalam realitas yang terstruktur. Ini menambah gagasan bahwa segala sesuatu tidak seperti yang terlihat di Instagram.
“Realitas dikonstruksi dan dikurasi meskipun Anda berpikir itu terasa begitu nyata. Hal ini menjadikannya metafora yang sempurna untuk media sosial secara keseluruhan,”kata dia.
Jadi, apakah orang-orang benar-benar tertipu oleh mirrir selfie palsu tersebut, dan apakah itu penting? Reaksi di internet akan menunjukkan bahwa banyak orang juga demikian.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
