Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Agustus 2024 | 04.35 WIB

Antara Kepalsuan Dan Kesenangan: Ternyata Inilah Alasan Orang Yang Gemar Pajang Mirror Selfie Di Media Sosial

Orang sedang melakukan mirror selfie (The Guardian) - Image

Orang sedang melakukan mirror selfie (The Guardian)

JawaPos.com - Mirror selfie menjadi trend anak muda kini. Sebab mereka tak perlu repot-repot untuk membawa tripot atau tak perlu sibuk mencari orang lain untuk memfotokan dirinya. Sehingga satu-satunya cara yakni dengan mirror selfie.

Saat melakukan mirror selfie biasanya mereka berada di tempat-tempat tertentu, seperti kamar hotel, kamar mandi, atau tempat yang menurut mereka estetik dan juga terdapat cerimin didalamnya.

Mirror selfie artinya seseorang berfoto secara mandiri dengan kemare belakang. Sehingga memberikan foto refleksi Anda sendiri. Kamera belakang dan susasana lebih intim juga akan terlihat di foto tersebut.

Berdasarkan dari pantauan JawaPos.com yang dikutip dari laman The Guardian beberapa orang telah memaparkan tentang psikologi orang yang sering melakukan mirror selfie.

Salah satunya yakni Susie Lau, dia dikenal oleh lebih dari 510 ribu penggemar sebagai Susie Bubble. Dia diketahui sering memposting foto selfi yang diambil di kamar mandinya. Tetapi apakah foto-foto tersebut itu benar-bener diambil di cermin kamar mandi?

Dia pun mengatakan bahwa dia menyukai spontanitas dan menganggapnya itu lucu. Dengan foto selfie orang-orang berusaha keras untuk memalsukan sesuatu yang dapat dicapai dengan begitu mudah.

Sementara itu Erica Davies seorang influencer, seperti dikutip The Guardian, juga memposting mirror selfie yang diambil di cermin aula dan kamar tidurnya. Dia pun mengungkapkan bahwa dengan mirror selfie dia dengan mudah menunjukkan fashion dan sedikit interiornya.

Jadi dengan melihat di cermin, dia bisa menampilkan pakaian dan sedikit rumahnya. Dia pun juga tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan tripot untuk melakukan mirror selfie.

Lantas bagaimana pendapat para ahli tentang mirror selfie? Menurut Derek Conrad Murray, ahli teori sejarah seni dan budaya visual di University of California, Santa Cruz mengatakan dalam budaya online, terdapat kesadaran yang menganggap kepalsuan sebagai sistem nilai dan strategi estetika. Kepalsuan adalah bagian dari kesenangan.

Mirror selfie menjelaskan aspek-aspek tertentu dari budaya internet. Sebuah kelas dalam realitas yang terstruktur. Ini menambah gagasan bahwa segala sesuatu tidak seperti yang terlihat di Instagram.

“Realitas dikonstruksi dan dikurasi meskipun Anda berpikir itu terasa begitu nyata. Hal ini menjadikannya metafora yang sempurna untuk media sosial secara keseluruhan,”kata dia.

Jadi, apakah orang-orang benar-benar tertipu oleh mirrir selfie palsu tersebut, dan apakah itu penting? Reaksi di internet akan menunjukkan bahwa banyak orang juga demikian.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore