Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Agustus 2024 | 14.10 WIB

Pemkot Surabaya Atasi Tingginya Harga Cabai dengan Manfaatkan Lahan Bekas Desa untuk Ditanami

Penanaman cabai di lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) dan Hutan Raya menjadi salah satu upaya Pemkot Surabaya memenuhi kebutuhan cabai masyarakat, terutama saat harga cabai meroket./ Pemkot Surabaya - Image

Penanaman cabai di lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) dan Hutan Raya menjadi salah satu upaya Pemkot Surabaya memenuhi kebutuhan cabai masyarakat, terutama saat harga cabai meroket./ Pemkot Surabaya

JawaPos.com - Harga cabai di Surabaya sedang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat, harga cabai dari petani mencapai Rp70.000/kg pada Minggu (28/7). Sedangkan, per Senin (29/7) harga cabai menurun sedikit, yakni Rp69.000/kg.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun bergerak cepat untuk mengatasi kenaikan harga cabai tersebut, antara lain dengan memanfaatkan lahan kosong untuk penanaman cabai.

Lahan yang dimanfaatkan pemkot antara lain lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) dan Hutan Raya yang memenuhi syarat untuk dilakukan penanaman.

Dinas ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya juga tidak bergerak sendiri karena turut menggandeng kelompok tani atau Poktan.

“Petani yang kita dorong, ada di Made, Pakal, dan Lakarsantri. Kita juga mendorong petani urban farming yang menanam di pekarangan rumah, atau yang memanfaatkan lahan fasum/fasos itu,” terang Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti seperti dikutip dari laman resmi Pemkot Surabaya.

Ia menambahkan, upaya yang dilakukan Pemkot Surabaya untuk mengikis tingginya harga cabai di pasar adalah dengan mengatur pola tanam cabai.

“Kita mengatur pola tanam, jadi kita sudah bisa membaca trennya pada bulan-bulan tertentu ketika harga cabai naik, biasanya menjelang hari besar atau pada musim yang cabai itu tidak bisa produksi bagus, atau adanya serangan hama,” imbuh dia.

Antiek berharap, warga Kota Surabaya juga turut menanam cabai di rumah, minimal menanam untuk dua pot.

“Itu bisa untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Kalau menanam minimal 2 pot, itu sudah mampu mengurangi kebutuhan pasar. Kalau kebutuhan terbesar, biasanya dari rumah makan atau restoran,” ujarnya.

Ia juga turut membeberkan penyebab tingginya harga cabai di Surabaya, antara lain akibat kekeringan di daerah penghasil, serta adanya serangan hama.

Selain itu, para petani di daerah penghasil cabai baru selesai melakukan proses tanam, sehingga masih belum bisa dipanen.

“Untuk mengetahui bagaimana kondisi harga, kita rutin melakukan pengecekan harga pangan di pasar,” tegas Antiek.

Ia menerangkan, kebutuhan cabai besar di Kota Surabaya mencapai 270 ton/per bulan, dan cabai rawit sebanyak 391 ton/per bulan.

Demi memenuhi kebutuhan cabai masyarakat, Surabaya mendapat pasokan dari daerah penghasil, seperti daerah Kediri, Malang, Blitar, dan sebagian daerah di Provinsi Jawa Tengah.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore