
Penanaman cabai di lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) dan Hutan Raya menjadi salah satu upaya Pemkot Surabaya memenuhi kebutuhan cabai masyarakat, terutama saat harga cabai meroket./ Pemkot Surabaya
JawaPos.com - Harga cabai di Surabaya sedang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat, harga cabai dari petani mencapai Rp70.000/kg pada Minggu (28/7). Sedangkan, per Senin (29/7) harga cabai menurun sedikit, yakni Rp69.000/kg.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun bergerak cepat untuk mengatasi kenaikan harga cabai tersebut, antara lain dengan memanfaatkan lahan kosong untuk penanaman cabai.
Lahan yang dimanfaatkan pemkot antara lain lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) dan Hutan Raya yang memenuhi syarat untuk dilakukan penanaman.
Dinas ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya juga tidak bergerak sendiri karena turut menggandeng kelompok tani atau Poktan.
“Petani yang kita dorong, ada di Made, Pakal, dan Lakarsantri. Kita juga mendorong petani urban farming yang menanam di pekarangan rumah, atau yang memanfaatkan lahan fasum/fasos itu,” terang Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti seperti dikutip dari laman resmi Pemkot Surabaya.
Ia menambahkan, upaya yang dilakukan Pemkot Surabaya untuk mengikis tingginya harga cabai di pasar adalah dengan mengatur pola tanam cabai.
“Kita mengatur pola tanam, jadi kita sudah bisa membaca trennya pada bulan-bulan tertentu ketika harga cabai naik, biasanya menjelang hari besar atau pada musim yang cabai itu tidak bisa produksi bagus, atau adanya serangan hama,” imbuh dia.
Antiek berharap, warga Kota Surabaya juga turut menanam cabai di rumah, minimal menanam untuk dua pot.
“Itu bisa untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Kalau menanam minimal 2 pot, itu sudah mampu mengurangi kebutuhan pasar. Kalau kebutuhan terbesar, biasanya dari rumah makan atau restoran,” ujarnya.
Ia juga turut membeberkan penyebab tingginya harga cabai di Surabaya, antara lain akibat kekeringan di daerah penghasil, serta adanya serangan hama.
Selain itu, para petani di daerah penghasil cabai baru selesai melakukan proses tanam, sehingga masih belum bisa dipanen.
“Untuk mengetahui bagaimana kondisi harga, kita rutin melakukan pengecekan harga pangan di pasar,” tegas Antiek.
Ia menerangkan, kebutuhan cabai besar di Kota Surabaya mencapai 270 ton/per bulan, dan cabai rawit sebanyak 391 ton/per bulan.
Demi memenuhi kebutuhan cabai masyarakat, Surabaya mendapat pasokan dari daerah penghasil, seperti daerah Kediri, Malang, Blitar, dan sebagian daerah di Provinsi Jawa Tengah.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
