JawaPos.com - Kamar tidur merupakan ruang pribadi yang menjadi tempat untuk beristirahat, melepas penat, dan mengekspresikan diri.
Kondisi kamar yang rapi dan tertata seringkali diasosiasikan dengan kepribadian yang teratur, disiplin, dan fokus.
Di sisi lain, kamar yang berantakan kerap diidentikkan dengan sifat malas, ceroboh, dan tidak disiplin.
Namun, benarkah kondisi kamar selalu mencerminkan kondisi psikologis seseorang? Ada berbagai macam penyebab mengapa kamar seseorang dibiarkan berantakan.
Ruangan yang berantakan bisa terkait dengan sebuah kerja kreatif dan juga bisa menunjukan sebuah permasalahan dalam hidup seseorang.
Dilansir dari laman Alpine Maids pada Kamis (16/05), berikut ini adalah kondisi seseorang yang membutuhkan bantuan dengan gejala kamar yang selalu berantakan.
1. Fase remaja yang masih butuh pendampingan
Fase pertama seseorang benar-benar bersentuhan dengan kemandirian adalah ketika mereka memasuki masa pubertas.
Seseorang mulai beranjak meninggalkan masa anak-anak, tetapi juga bukan orang dewasa, dan pada fase ini seseorang belum terbiasa mengurus dirinya sendiri.
Ini adalah fase yang normal pada seorang remaja. Jadi cobalah untuk bersikap suportif dan membantu jika memiliki remaja di rumah.
2. Sifat pribadi seseorang
Banyak penelitian menunjukkan bahwa ruangan yang acak-acakan sebenarnya adalah ciri kepribadian yang sangat umum.
Dalam beberapa kasus, ada orang yang memang tidak tertarik untuk membersihkan ruangan dan kamar pribadinya.
Jika seseorang tidak merasa terganggu dengan hal tersebut, bisa jadi merupakan tanda bahwa mereka sudah terbiasa hidup seperti itu.
Hal ini sering kali berasal dari sifat-sifat yang mereka peroleh selama masa remaja dan berlanjut hingga dewasa.
3. Depresi dan masalah Lainnya
Apakah rumah yang berantakan merupakan tanda penyakit mental? Mungkin terfikir oleh seseorang yang mengalaminya.
Psikologi mengatakan bahwa keadaan berantakan memang bisa menjadi pertanda seseorang sedang mengalami kesulitan dalam hidupnya.
Sama seperti seseorang yang menderita Obsessive Compulsive Disorder (OCD) dan harus mengendalikan segalanya, menjadi orang yang berantakan mungkin menunjukkan bahwa ia sedang menghadapi permasalahan mentalnya.
Orang dengan gangguan kecemasan dapat diperparah oleh lingkungan yang berantakan, sehingga membuat mereka semakin sulit untuk merasa tenang dan fokus.
Sama halnya dengan dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sering kali seseorang mengalami kesulitan dalam mengatur dan mengorganisir barang-barang mereka.
Kekacauan di kamar dapat memperburuk gejala ADHD, seperti kesulitan fokus, mudah teralihkan, dan impulsivitas.
Gangguan lainnya, Hoarding Disorder bisa menjadi penyebab mengapa kamar bisa berubah menjadi sebuah ruangan penimbunan sampah.
Orang dengan Hoarding Disorder ditandai dengan akumulasi barang-barang yang berlebihan secara signifikan, hingga menyebabkan kesulitan menggunakan ruang dan fungsi ruangan.
Individu dengan Hoarding Disorder mungkin merasa terikat secara emosional dengan barang-barang mereka dan kesulitan untuk membuangnya.
Kondisi acak-acakan dan penimbunan mungkin menjadi mekanisme penanggulangan stress seseorang. Penderita depresi sulit bangun dari tempat tidur, apalagi membersihkan kamar
Membereskan pakaian, membersihkan sampah tidak lagi menjadi bagian dari kebutuhan dan prioritas dalam hidup.
Apakah benar kamar yang acak-acakan menunjukan sisi kreatif seseorang?
Meskipun tidak ada hubungan langsung, penelitian menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, orang dengan ruangan yang lebih berantakan cenderung memiliki ide yang lebih kreatif dibandingkan orang dengan ruangan yang sangat rapi, meskipun hal ini tidak bersifat universal.
Jika tidak terkait dengan sebuah kerja kreatif, kamar dan ruangan yang acak-acakan bisa menunjukan gangguan kejiwaan, seseorang tersebut membutuhkan support dan bantuan.***