Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Mei 2024 | 14.53 WIB

Makan Cokelat di Malam Hari, Pertanda Anda Seorang yang Kesepian Menurut Penelitian

ILUSTRASI: Cokelat. /Pixabay dari Pexels - Image

ILUSTRASI: Cokelat. /Pixabay dari Pexels

JawaPos.com - Jika Anda menghabiskan malam dengan makan cokelat atau es krim, alasan minuman manis tersebut bisa jadi karena "kesepian". Banyak yang mengatakan jika dengan makan cokelat dapat mengembalikan dan membangun perasaan kita menjadi lebih baik, dan itu adalah fakta.

Cokelat telah lama dikaitkan dengan pembangkit perasaan senang. Saat Anda mengonsumsi cokelat, otak Anda melepaskan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan kesenangan.

Peningkatan dopamin inilah yang membuat Anda merasa sangat nyaman setelah makan sepotong cokelat. Namun, percayakan Anda memakan cokelat, lebih spesifik pada malam hari, dapat menandakan bahwa Anda adalah pribadi yang kesepian?

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open yang dikutip JawaPos.com melalui Sentinelassam, kesepian dapat menyebabkan keinginan ekstrem untuk makanan manis.

Untuk melakukan penelitian ini, para peneliti mengaitkan kimia otak pada individu yang terisolasi secara sosial dengan kesehatan mental yang buruk, penambahan berat badan, penurunan kognitif, dan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan obesitas.

Penulis senior studi tersebut, Arpana Gupta, dan seorang profesor di Universitas California, Los Angeles, mengatakan dia ingin mempelajari jalur otak yang terlibat dalam obesitas, depresi dan kecemasan, serta makan berlebihan, yang merupakan sebuah mekanisme untuk mengatasi kesepian.

Penelitian ini melibatkan 93 partisipan pramenopause, dan hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang mengalami kesepian atau isolasi memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi.

Selain itu, mereka memiliki perilaku makan yang buruk seperti kecanduan makanan dan pola makan yang tidak terkontrol. Para peneliti menggunakan pemindaian MRI untuk mengukur aktivitas otak partisipan saat mereka melihat gambar abstrak makanan manis dan asin.

Hasilnya menunjukkan bahwa subjek individu memiliki aktivitas lebih besar di area otak tertentu yang merespons hasratnya pada makanan manis. Peserta yang sama menunjukkan respons yang lebih lemah dalam domain yang berkaitan dengan pengendalian diri.

Menurut Gupta, keinginan makan makanan manis, seperti cokelat, dapat menjadi pengalihan perasaan akan hubungan sosial yang tidak dapat mereka jangkau karena adanya isolasi sosial.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore