Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Mei 2024 | 18.33 WIB

6 Ciri Kepribadian Orang yang Gemar Posting Kehidupan di Media Sosial, Salah Satunya Ingin Selalu Terlihat Sempurna dan Positif

Ilustrasi orang yang gemar posting kehidupan pribadi di media sosial. - Image

Ilustrasi orang yang gemar posting kehidupan pribadi di media sosial.

JawaPos.com - Seiring perkembangan teknologi dan media sosial, semakin banyak pula orang yang aktif membagikan potongan kehidupan mereka secara daring.

Namun, di balik setiap postingan dan gambar yang diposting, ada kecenderungan tertentu dalam kepribadian yang mendorong seseorang untuk terus menerus membagikan cerita dan momen pribadi mereka di media sosial.

Dilansir dari Ideapod pada Selasa (7/5), terdapat 6 ciri kepribadian yang sering dimiliki oleh orang-orang yang gemar memposting dan membagikan kehidupan mereka di media sosial, serta apa yang mendorong mereka untuk melakukannya:

Baca Juga: 4 Tempat Ngopi di Bali yang Buka 24 Jam, Cocok untuk Nongkrong Bersama dengan Teman

1. Merasa takut jika tidak terlihat

Ini berarti bahwa seseorang cenderung memposting setiap detail kehidupan mereka terlalu sering dan secara berlebihan. Orang-orang seperti ini cenderung akan membagikan segala sesuatu, mulai dari makanan, pakaian, hingga aktivitas sehari-hari mereka.

Biasanya, perilaku ini muncul karena kebutuhan akan validasi atau rasa takut akan merasa tidak terlihat. Mereka ingin diperhatikan dan diakui oleh orang lain, jadi mereka membagikan informasi lebih dari yang seharusnya.

Meskipun perilaku ini dapat menarik perhatian sementara, namun dalam jangka panjang, hal itu dapat membuat orang lain merasa terganggu atau bahkan mengabaikan konten yang dibagikan.

2. Sering mengganti foto profil media sosial

Kebanyakan orang mengubah gambar profil mereka secara rutin untuk mempertahankan ketertarikan dan perhatian orang lain terhadap profil mereka.

Setiap kali gambar profil diubah, ini dapat mendorong teman atau pengikut untuk melihat kembali profil orang tersebut.

Namun, terlalu sering mengganti gambar profil juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang memiliki rasa ketidakamanan atau kebutuhan yang kuat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain.

Jadi, mengubah gambar profil tidak selalu buruk, tetapi terlalu sering melakukannya bisa menjadi indikasi bahwa seseorang bergantung pada respons positif dari orang lain untuk merasa dihargai atau diterima.

Baca Juga: Teuku Ryan Tak Terima Disebut Sikapnya Baru Berubah Baik Usai Ditransfer Ria Ricis Rp 500 Juta

3. Obsesi pada jumlah like dan komentar di media sosial

Mereka sangat peduli dengan jumlah suka atau komentar yang mereka terima setelah memposting sesuatu.

Bagi mereka, setiap suka atau komentar menjadi bentuk validasi eksternal yang menunjukkan bahwa orang lain memperhatikan dan menghargai apa yang mereka bagikan di media sosial.

Obsesi semacam ini menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan seseorang pada respons dari media sosial untuk menilai harga dirinya sendiri.

Ini juga mencerminkan sejauh mana mereka terhubung dengan persona digital, di mana validasi dari dunia maya menjadi penting untuk memengaruhi perasaan diri dan emosi mereka.

4. Gemar mencari perhatian dan pengakuan dari orang lain

Studi menunjukkan bahwa orang-orang yang sering melakukan hal ini di media sosial seringkali memiliki kebutuhan yang tinggi akan perhatian dan pengakuan dari orang lain.

Mereka menggunakan postingan mereka untuk menciptakan gambaran yang diinginkan tentang diri mereka sendiri, dengan harapan mendapatkan pengagum dari pengikut mereka.

Meskipun promosi diri itu sendiri tidak selalu buruk, perilaku yang berlebihan dapat dianggap sebagai tanda narsisme dan bahkan dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Baca Juga: Teuku Ryan Tidak Terima Disebut Berubah jadi Baik Usai Mendapat Rp 500 Juta dari Ria Ricis

5. Ingin selalu terlihat sempurna dan positif

Orang-orang yang terus-menerus mencari perhatian di media sosial cenderung hanya membagikan momen-momen terbaik dalam hidup mereka, tanpa memperlihatkan sisi-sisi yang kurang baik atau tantangan yang mereka hadapi.

Mereka menciptakan gambaran yang sangat positif dan terkadang tidak realistis tentang kehidupan mereka. Efek ini dapat menyesatkan karena membuat orang lain percaya bahwa kehidupan seseorang selalu sempurna, tanpa kesulitan atau masalah.

Hal ini dapat membuat orang lain merasa tidak memadai atau tidak bahagia dengan kehidupan mereka sendiri jika dibandingkan dengan gambaran yang diberikan oleh orang-orang yang selalu tampil positif di media sosial.

Di sisi lain, bagi orang yang melakukan ini, menciptakan citra yang selalu positif juga dapat menimbulkan tekanan psikologis untuk selalu terlihat sempurna.

Mereka merasa perlu mempertahankan gambaran ini agar terus mendapatkan perhatian dan pujian dari orang lain di media sosial, dimana ini dapat menimbulkan kelelahan emosional.

6. Memposting konten emosional dan dramatis

Mereka sering membagikan konten yang emosional atau dramatis untuk menarik reaksi dan perhatian dari audiens mereka. Konten-konten ini bisa berisi tentang perjuangan pribadi, pengalaman patah hati, atau topik-topik kontroversial.

Bagi beberapa orang, ini merupakan upaya jujur untuk berbagi pengalaman dan mencari dukungan. Bagi yang lain, ini adalah cara untuk menjaga minat dan keterlibatan audiens mereka.

Namun, pada umumnya, kiriman semacam itu mendapatkan lebih banyak perhatian dan interaksi yang dapat memenuhi kebutuhan akan perhatian dari orang tersebut.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore