
Ilustrasi anak yang mengalami broken home. (Freepik)
JawaPos.com - Broken home dikenal sebagai keluarga yang retak dimana merujuk pada kondisi orang tua yang mengalami perceraian atau keluarga mengalami ketidakstabilan yang berdampak pada hubungan keluarga.
Broken home sering dianggap sebagai masa yang sulit karena melibatkan perubahan besar dalam kehidupan anak-anak, terutama dalam hal kestabilan emosional dan keamanan.
Broken home yang ditandai dengan perceraian atau ketidakstabilan dalam hubungan orang tua dapat mengakibatkan perasaan kehilangan, kebingungan, dan ketidakpastian bagi anak-anak.
Mereka mungkin merasa terpisah dari salah satu atau kedua orang tua mereka, dan kehilangan rutinitas keluarga yang biasanya terjadi, hingga mengalami stres yang disebabkan oleh perubahan lingkungan.
Selain itu, konflik yang mungkin terjadi di dalam rumah tangga yang retak dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional anak-anak, serta memengaruhi persepsi mereka tentang hubungan dan komunikasi interpersonal.
Meskipun pengalaman ini sering kali dianggap sebagai masa sulit dalam kehidupan anak-anak, ada sisi positif yang dapat diambil dari pengalaman ini.
Anak-anak dari keluarga yang broken home sering kali mengembangkan sifat-sifat yang kuat dan berharga sebagai hasil dari tantangan yang mereka hadapi.
Dilansir dari The 9th Door pada Rabu (13/3), terdapat 7 sisi positif yang seringkali dimiliki oleh anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengalami perpecahan, diantaranya yakni sebagai berikut.
1. Mereka belajar ketangguhan
Anak yang mengalami situasi sulit dan penuh emosi negatif sejak dini seperti broken home dapat mengajarkan mereka untuk menjadi kuat.
Mereka menanggung masa-masa sulit sampai semuanya menjadi lebih baik. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaan, mereka akan mulai sembuh dengan sendirinya.
2. Mereka mengembangkan toleransi
Kondisi ini memungkinkan mereka untuk belajar tentang ketidaksempurnaan dan kekecewaan dalam hubungan manusia sejak dini.
Melalui pengalaman ini, mereka menjadi lebih toleran terhadap kekurangan orang lain dan kesalahan manusia secara umum. Mereka juga mungkin lebih memahami bahwa tidak ada yang sempurna, termasuk diri mereka sendiri, sehingga mereka dapat lebih terbuka terhadap keberagaman dan perbedaan dalam hubungan interpersonal.
Dengan demikian, anak-anak yang mengalami broken home dapat membentuk pola pikir yang lebih inklusif dan toleran.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
