Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Maret 2024 | 22.22 WIB

Belajar dari Rasa Sakit: Inilah 7 Sisi Positif Anak yang Mengalami Broken Home

Ilustrasi anak yang mengalami broken home. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak yang mengalami broken home. (Freepik)

JawaPos.com - Broken home dikenal sebagai keluarga yang retak dimana merujuk pada kondisi orang tua yang mengalami perceraian atau keluarga mengalami ketidakstabilan yang berdampak pada hubungan keluarga.

Broken home sering dianggap sebagai masa yang sulit karena melibatkan perubahan besar dalam kehidupan anak-anak, terutama dalam hal kestabilan emosional dan keamanan.

Broken home yang ditandai dengan perceraian atau ketidakstabilan dalam hubungan orang tua dapat mengakibatkan perasaan kehilangan, kebingungan, dan ketidakpastian bagi anak-anak.

Mereka mungkin merasa terpisah dari salah satu atau kedua orang tua mereka, dan kehilangan rutinitas keluarga yang biasanya terjadi, hingga mengalami stres yang disebabkan oleh perubahan lingkungan.

Selain itu, konflik yang mungkin terjadi di dalam rumah tangga yang retak dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional anak-anak, serta memengaruhi persepsi mereka tentang hubungan dan komunikasi interpersonal.

Meskipun pengalaman ini sering kali dianggap sebagai masa sulit dalam kehidupan anak-anak, ada sisi positif yang dapat diambil dari pengalaman ini.

Anak-anak dari keluarga yang broken home sering kali mengembangkan sifat-sifat yang kuat dan berharga sebagai hasil dari tantangan yang mereka hadapi.

Dilansir dari The 9th Door pada Rabu (13/3), terdapat 7 sisi positif yang seringkali dimiliki oleh anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengalami perpecahan, diantaranya yakni sebagai berikut.

1. Mereka belajar ketangguhan

Anak yang mengalami situasi sulit dan penuh emosi negatif sejak dini seperti broken home dapat mengajarkan mereka untuk menjadi kuat. 

Mereka menanggung masa-masa sulit sampai semuanya menjadi lebih baik. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaan, mereka akan mulai sembuh dengan sendirinya.

2. Mereka mengembangkan toleransi

Kondisi ini memungkinkan mereka untuk belajar tentang ketidaksempurnaan dan kekecewaan dalam hubungan manusia sejak dini.

Melalui pengalaman ini, mereka menjadi lebih toleran terhadap kekurangan orang lain dan kesalahan manusia secara umum. Mereka juga mungkin lebih memahami bahwa tidak ada yang sempurna, termasuk diri mereka sendiri, sehingga mereka dapat lebih terbuka terhadap keberagaman dan perbedaan dalam hubungan interpersonal.

Dengan demikian, anak-anak yang mengalami broken home dapat membentuk pola pikir yang lebih inklusif dan toleran.

Editor: Nicolaus Ade
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore