Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Mei 2022 | 21.52 WIB

Trik Psikologi Menjawab Pertanyaan Menohok saat Lebaran

Warga melakukan panggilan video saat bersilaturahim Idul Fitri 1441 H Di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (24/5/2020). Panggilan video dilakukan sebagai pengganti bertemu langsung dengan keluarga di tengah pandemi COVID-19 dan penerepana PSBB. Fot - Image

Warga melakukan panggilan video saat bersilaturahim Idul Fitri 1441 H Di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (24/5/2020). Panggilan video dilakukan sebagai pengganti bertemu langsung dengan keluarga di tengah pandemi COVID-19 dan penerepana PSBB. Fot

JawaPos.com–Salah satu hal yang paling dihindari saat Lebaran adalah pertanyaan dari keluarga yang dirasa menohok. Beberapa pertanyaan itu dirasa terlalu menekan dan membuat tak nyaman.

Di antaranya adalah kok gendutan? atau kapan nikah? atau bahkan kapan lulus? Sebenarnya, terdapat trik psikologi untuk merespons hal itu tanpa menyakiti lawan bicara.

Ketua Jurusan psikologi Unesa Meita Santi Budiani menjelaskan, terdapat beberapa hal yang harus dijadikan prinsip sebelum melontarkan jawaban. ”Pertama, kembalikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan prinsip dan keyakinan kita. Terkadang kita memang lebih gendut atau lebih kurus karena kondisi tertentu,” kata Meita pada Senin (2/5).

Namun, dalam kondisi tersebut, selama tidak mengganggu, tidak perlu merasa risau ketika mendapat pertanyaan tersebut. Sebab, kondisi lebih kurus, lebih gendut, belum atau sudah menikah, bukan suatu hal yang salah.

”Hal tersebut hanya menyatakan perubahan dari kondisi kita sebelumnya. Jadi selama secara prinsip hal tersebut tidak menjadi masalah. Kita terima saja pertanyaan tersebut sebagai hal yang netral,” papar Meita Santi Budiani.

Kemudian, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan, bisa jadi merupakan bentuk perhatian, atau upaya memberikan perhatian pada kita saat bertemu. Hal tersebut juga menjadi cara bagi orang tertentu untuk memulai pembicaraan.

”Terkadang mereka belum memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita kurang nyaman. Jadi kita juga berhak memberikan jawaban secara terbuka atau juga tidak memberikan jawaban,” jelas Meita Santi Budiani.

Beberapa di antaranya dengan merespons enaknya makin gendut apa kurus ya, maunya yang gimana, atau iya, syukurlah sudah nggak kurus lagi.

”Bisa juga kita tidak memberikan jawaban, seperti tersenyum atau menjawab, hehehe,” ujar Meita Santi Budiani.

”Bisa juga ketika kita merasa keberatan, kita manyampaikannya dengan halus, untuk memberikan informasi pada penanya bahwa dia telah membuat kita kurang nyaman,” saran dia.

Saat merasa tidak nyaman dan agar intensintas pertanyaan tersebutt dapat berkurang, hal tersebut dapat diungkapkan secara santun. ”Seperti Maaf saya kurang nyaman dengan pertanyaan Tante,” ucap Meita Santi Budiani.

”Bila hal tersebut ditanyakan oleh orang terdekat kita, ada baiknya kita memiliki pemikiran positif bahwa beliau sedang berusaha memberikan perhatian kepada kita, jadi segala bentuk jawaban yang kita berikan sebaiknya kita sampaikan dengan sopan, atau dapat kita alihkan pada topik ringan yang lain,” tambah dia.

Beberapa orang mungkin merasa sangat terganggu atas pernyataan dan pertanyaan yang diberikan. Bisa karena intensitas yang sering atau karena ucapan yang kritis dan mendalam.

”Hal yang perlu kita sadari, kita adalah orang yang paling memahami diri kita sendiri, sehingga tanggapan orang lain jangan sampai mengganggu kepercayaan diri kita,” ujar Meita Santi Budiani.

Dia meminta untuk yakin dengan diri sendiri, prinsip, keluarga, dan teman yang mendukung. Maka, bisa menganggap pertanyaan yang kurang nyaman tersebut sebagai bentuk perhatian, yang tidak perlu mengganggu konsep diri.

”Ketika intensitas pertanyaan atau nasihat yang diberikan terasa semakin mengganggu, kita berhak kok tidak merespons, berhak juga menyampaikan alasan-alasan atau kondisi-kondisi kita, atau keberatan kita atas pertanyaan tersebut, selama kita dapat menyampaikannya dengan sopan,” papar Meita Santi Budiani.

Meita menilai belum tentu orang yang bertanya juga melalui hal-hal yang ditanyakan dengan baik dan sukses. Selain itu, juga dapat membalas dengan candaan ringan.

”Atau kembali menanyakan keadaan dirinya, keluarganya. Misalkan, Bagaimana kabarnya Om, Tante, sehat-sehat ya? Tante berhasil diet ya?” ucap Meita Santi Budiani.

Sementara itu, psikolog dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya, Rahma Kusumandari menjelaskan tidak semua hal di dunia bisa dikontrol. Untuk itu, disarankan untuk bisa mengontrol diri sendiri.

”Kita mesti bisa membedakan mana hal yang bisa kita kontrol mana yang tidak bisa dikontrol. Salah satunya pendapat orang lain terhadap diri kita. Jadi apa yang bisa kita kontrol? Apa itu reaksi kita emosi kita ketenangan kita pola pikir kita sendiri,” kata Rahma Kusumandari.

Bila ada orang yang memberikan respons yang dirasa menohok, Rahma meminta untuk menarik napas panjang, lalu memberi jeda pada diri sendiri. ”Setelah itu baru merespons dengan tenang,” kata Rahma.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore