
BUAT KESEPAKATAN: Agar tenang dan nyaman, sebelum menitipkan anak kepada nenek dan kakek, ortu perlu membuat kesepakatan dengan si kecil maupun nenek-kakek.
Ada kalanya Ayah-Bunda perlu menitipkan anak kepada nenek-kakeknya. Misalnya, karena kesibukan atau keperluan yang tidak bisa membawa anak. Nah, saat bersama kakek-nenek, sering kali anak cenderung lebih bebas tanpa batasan sebagaimana yang diterapkan ortu. Bagaimana mengatasinya?
---
NENEK dan kakek pada umumnya akan senang jika cucunya datang ke rumah. Tapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan Ayah-Bunda ketika menitipkan anak kepada nenek-kakek. Pertama, Ayah dan Bunda tetap perlu minta izin terlebih dulu. Pertimbangkan pula kondisi fisik nenek dan kakek, apakah memungkinkan untuk menjaga cucu.
Hal lumrah ketika kakek dan nenek cenderung menuruti semua keinginan cucunya, bahkan sering kali memanjakan. Hal itu dilakukan agar sang cucu merasa nyaman di dekat mereka. Namun, tanpa disadari, kasih sayang itu mungkin berlawanan dengan kedisiplinan yang selama ini diterapkan ortu ke anak.
’’Misalnya, ketika di rumah, screen time tidak boleh lebih dari 30 menit. Eh, di rumah neneknya bisa berjam-jam main HP. Atau, yang seharusnya tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis malah bebas makan apa saja,’’ urai Cania Mutia MPsi Psikolog.
Cania mengingatkan, ortu perlu menjalin komunikasi yang baik sebelum menitipkan anak ke rumah kakek-neneknya. Guna menyeragamkan pola asuh, aturan, dan batasan yang selama ini berjalan.
’’Sampaikan apa saja batasan atau aturan yang boleh dan tidak. Termasuk alasan kita menerapkan aturan tersebut,’’ ujar founder @rumahrangkul itu.
]Sebelum berangkat, lanjutnya, briefing anak terkait aturan yang berlaku di rumah kakek-nenek serta aturan yang ada di rumah. Karena itu, idealnya, anak boleh dititipkan ke kakek-neneknya saat sudah bisa diajak komunikasi dan memahami aturan.
’’Beri reward jika anak berhasil mengembalikan kebiasaan yang baik sepulang dari rumah nenek. Bisa berupa pujian atau hadiah kecil,’’ imbuh psikolog di RSIY PDHI Yogyakarta itu.
Cania menyarankan ortu untuk rajin berkomunikasi selama anak bersama kakek-neneknya. Dengan begitu, tetap bisa memantau perkembangan anak.
’’Jangan terlalu lama juga meminta kakek-nenek mengasuh cucu. Mereka bisa stres psikologis akibat kebutuhan untuk menjalani peran yang banyak dalam satu waktu,’’ imbaunya.
Penuhi pula kebutuhan anak selama di sana agar tidak memberatkan kakek dan nenek. Mulai sandang, pangan, hingga aktivitas untuk stimulasi tumbuh kembang.
’’Bermain peran atau storytelling bisa jadi alternatif aktivitas kakek-nenek bersama cucu. Pretend play bagus untuk meningkatkan kemampuan adaptasi anak, sedangkan bercerita bisa mengasah imajinasi anak,’’ jelasnya.
Jika memungkinkan, ortu juga bisa menyediakan pengasuh untuk membantu kakek-nenek selama menitipkan anak. Kakek dan nenek cukup berperan sebagai pengawas, sehingga tidak terlalu menyulitkan.
Yang juga perlu diingat, sebaiknya tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi untuk meminimalkan konflik Ayah-Bunda dengan kakek-nenek. (lai/c18/nor)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
