Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 November 2020 | 22.56 WIB

Tip Beli Produk Investasi-Asuransi, Hindari Faktor Saudara atau Teman

Ilustrasi klaim asuransi - Image

Ilustrasi klaim asuransi

JawaPos.com - Selama ini banyak masyarakat mencari produk investasi untuk menjaga dananya supaya tidak lenyap begitu saja pada kurun waktu tertentu. Di sisi lain, tidak jarang pula para nasabah yang kecewa atau tidak mendapatkan hasil maksimal dari produk investasi yang mereka beli.

Penasihat Keuangan dari Finasialku Robby Christy menerangkan sejumlah tip agar tidak terjebak dalam iming-iming dari produk investasi atau asuransi. Di antaranya jangan membeli produk asuransi atau investasi karena agen dari produk tersebut adalah teman atau saudara.

"Biasanya banyak orang kecewa setelah membeli produk asuransi atau investasi karena motivasinya membantu teman atau saudara," ujar Robby Christy kepada JawaPos.com dalam diskusi virtual pada Kamis (5/11).

Padahal, harapannya mereka di balik membeli produk asuransi dan investasi itu mendapat hasil maksimal. Contoh untuk produksi investasi tertentu dengan membayar iuran atau premi per bulan sebesar Rp 500 ribu. Dalam kurun waktu tertentu dijanjikan kembali dengan lebih.

"Misalnya setelah 10 tahun bisa mendapatkan margin 10 persen dari modal yang dibayarkan setiap bulan," imbuh Robby. Ternyata setelah tiba pada waktunya atau kontrak investasinya 10 tahun, hasil dari investasi itu jauh dari ekspektasi. "Ujung-ujungnya kecewa," kata Robby.

Untuk itu, Robby mengingatkan, jangan sampai terjebak dalam return dari sebuah produk investasi atau asuransi. Sebelum berharap mendapatkan hasil atau return, pahami dulu risiko dalam sebuah produk itu.

Contohnya untuk produksi asuransi kesehatan atau asuransi lainnya. Biasanya dalam produk asuransi ini para agen atau penjual produk asuransi menyampaikan tentang keuntungan yang didapat dari produknya. Di antaranya ditanggungnya pengobatan untuk sejumlah penyakit kritis.

"Jangan beli produk asuransi ketika sedang mengalami sakit atau sakit kritis. Sebab itu bisa berpotensi tidak diklaim," ungkapnya.

Dia menyarankan membeli asuransi kesehatan ketika sedang sehat. Sehingga, pada masa tertentu si nasabah terserang penyakit kritis, mereka akan mendapat pelayanan kesehatan dari asuransi.

Baca juga:


Biasanya dalam produk tertentu dijelaskan berapa nilai pagu pertanggungan yang diberikan. Jika biaya pengeobatan dari penyakit itu melebehi dari pertanggungan, maka jangan kecewa. "Kuncinya pahami dulu risk dan return-nya. Jangan hanya melihat benefit semata. Pahami risikonya dari produk itu sendiri," tandasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=tar1xY4jMKk

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore