
Tiga desainer lulusan Management Development Institute of Singapore (MDIS) menampilkan koleksi keberagaman. (MDIS)
JawaPos.com - Dalam ajang Graduate Fashion Show 2019 Management Development Institute of Singapore (MDIS) menampilkan karya tiga desainer muda yang fresh. Dengan menampilkan 10 koleksi desain, ketiganya membawa pesan sosial dan memberikan semangat keberagaman.
Berbagai pesan sosial dan keberagaman itu diungkapkan dalam koleksi busana mereka. Sedikitnya terdapat 3 desainer yang menampilkan unsur keberagaman dalam koleksinya. Ketiganya merupakan jebolan MDIS kaum milenial kelahiran tahun 1990-2000an.
"Kami melihat tema dan pesan yang sangat menarik di 10 karya fashion ini. Desainer muda ini benar-benar menunjukkan kejujuran dan passion mereka yang sesungguhnya melalui karya-karya yang mereka hasilkan. Keberanian seperti ini sangat penting ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan mereka menjadi perancang busana profesional," kata Creative Director of Braun Buffel, Fabio Panzeri, dalam keterangan tertulis, Minggu (26/5).
1. Nur Ili Binte Norazip
Pemenang the Best Academic Award, Nur Ili Binte Norazip, mempersembahkan 'Fractals', sebuah karya yang terinspirasi oleh masjid di Iran. Melalui karya ini, Nur berharap bahwa dia bisa membuka percakapan yang lebih bermakna tentang konsep kesopanan dan kurangnya representasi perempuan muslim dalam fast fashion.
“Saya bertujuan untuk menantang stereotip terhadap kaum hawa.Saya harap koleksi ini dapat berkontribusi untuk membuat lebih banyak orang berpikir tentang inklusivitas dan keberagaman yang lebih besar dalam fashion," kata Nur.
2. Meghna Sharma
Menghadirkan koleksi ‘Shakti’, sebuah representasi energi feminin ketuhanan dalam agama Hindu. Dia adalah seorang berkewarganegaraan India yang tumbuh di Indonesia. Meghna ingin agar fashion buatannya mampu menyampaikan pesan pemberdayaan perempuan dalam budaya yang penuh dengan masalah ketidaksetaraan gender.
“Karya saya terinspirasi dari wanita yang telah hidup dengan gagah berani dalam masyarakat di mana mereka dikritik dengan keras. Desain ini menekankan pada aspek feminin namun dengan siluet yang kuat untuk merayakan kebebasan wanita,” ujar Meghna.
3. Ng Pei Shi Amanda
Dia mendapatkan penghargaan the Best Collection karena menunjukkan keunggulan dalam orisinalitas, pengerjaan, dan teknik yang digunakan dengan 'Genesis'. Terinspirasi oleh bentuk seni gua yang paling primitif, lukisan Chauvet di Perancis selatan. Karya Amanda adalah interpretasi kontemporer dari cetakan yang dilukis dan dibayangi dalam seni gua Palaeolithic. Amanda menggabungkan konsep fashion berkelanjutan melalui pelapisan kain dan benang bekas dalam desainnya untuk mencerminkan kehidupan manusia prasejarah yang menggunakan bahan dasar yang mereka lihat atau miliki.
“Karya ini memakan waktu 1 tahun dalam pembuatannya. Tujuan dari desain saya ada dua, yaitu meningkatkan kesadaran fashion berkelanjutan dengan penggunaan bahan bekas yang diberikan ‘nyawa baru’ dan menemukan kedalaman seni sejarah,” ungkap Amanda.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
