Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 April 2019 | 17.13 WIB

Kenali Anak-anak yang Berpotensi Mem-bully dan Di-bully, Ini Ciri-cirinya

Ilustrasi bullying. Pelaku biasanya memiliki masalah di keluarga.(Recovery Ranch) - Image

Ilustrasi bullying. Pelaku biasanya memiliki masalah di keluarga.(Recovery Ranch)

JawaPos.com - Kasus penganiayaan terhadap siswi AU oleh siswi SMA Pontianak, karena alasan bully di media sosial membuka mata masyarakat bahwa anak-anak perlu diberi perhatian ekstra. Perlu adanya kesadaran dari orang terdekat, terutama orang tua bahwa bullying harus dicegah.

Perilaku anak-anak yang berpotensi mem-bully dan di-bully sebetulnya bisa dikenali sejak awal sebelum berlanjut pada kasus yang lebih besar. Bullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan melalui kekerasan fisik (berkelahi), kekerasan verbal (lewat kata-kata), dan kekerasan psikis (bahasa tubuh yang mengintimidasi).

Kemudian, bullying terjadi dikarenakan adanya kekuatan yang tidak seimbang. Ada orang yang lebih kuat dan ada orang yang lemah. Selanjutnya, ada tindakan yang berulang dengan pelaku dan korban yang selalu sama.

"Kenapa korban bullying menderita banget? Karena pengulangan dan dijadikan target yang kuat, jadi nggak kuat," kata Hanlie Muliani, M. PSi, Psikolog Anak, Remaja dan Pendidikan, sekaligus penulis buku Why Children Bully?, ketika dihubungi oleh JawaPos.com, belum lama ini.

Sumber lain juga mengatakan biasanya pelaku bullying memiliki status atau kedudukan yang lebih, sehingga membuatnya punya kuasa dan berhak untuk mem-bully. Seperti antara senior dan junior atau atasan dan bawahan.

"Pada si korban, orang-orang yang individu dipersepsikan di kelompoknya atau di masyarakat mereka beda dengan rata-rata, over atau under," ujar Nael Sumampouw, Psikolog Forensik F. Psi UI, Apsifor, yang juga dihubungi oleh JawaPos.com.

Selain itu, dilihat dari status sosial, pelaku bisa terlihat dari sifat yang senang berkelompok, memiliki sifat yang mendominasi, dan egois. Tetapi, ada juga yang dilakukan dengan sikap diam-diam tanpa berkelompok namun mengganggu secara one-on-one.

Sementara korban memiliki ciri anak yang lebih terlihat pendiam, tidak berani menatap muka, dan tidak percaya diri.

"Biasanya anak-anak gini dilihat pelaku sebagai target yang gampang, anak yang berasal dari ekonomi yang cukup baik, tapi dia nggak punya defense mechanism yang cukup kuat dipalakin terus," jelas Liza Marielly Djaprie, Psikolog Klinis & Hipnoterapis.

Editor: Novianti Setuningsih
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore