
ILUSTRASI. (Nina/Jawa Pos)
Di antara berbagai jenis profesi yang hadir di dunia ini, ada yang pasti mengiringinya. Yaitu, trust atau kepercayaan. Tak mungkin orang akan menyerahkan tugas kepada yang meragukan. Trust itu hal krusial.
---
MUDAHKAH mendapatkan kepercayaan? Tergantung. Apa saja yang bisa bikin seorang profesional atau sebuah jasa dipercaya?
Kualitas produk
Ini menyangkut sekeren apa produk (termasuk produk jasa) yang ditawarkan. Kelas rata-rata, unggul, unik, berbeda, kreatif, atau avant-garde (lebih canggih dari rata-rata).
Kualitas para profesional
Expertise mereka yang menjadi think tank-nya dan eksekutornya.
Kualitas layanan
Menyangkut keterandalan (reliability). Bisa diandalkan dan bikin nyaman. Kesigapan, keramahan, kecepatan, ketepatan, dan keamanannya. Selalu siap membantu persoalan pengguna jasa hingga tuntas dan puas.
Kualitas komunikasi
Cara berkomunikasi dan mengomunikasikan diri dengan elegan, klir, tidak overpromise, berkelas dalam pendekatan, dan edukatif.
Empat poin di atas adalah pilar yang harus menjadi concern utama. Termasuk bagi para pebisnis start-up. Bahkan dalam profesi-profesi yang ”individual” seperti dokter, pengacara, model, notaris, dan pembicara.
Apa yang dilakukan dalam memberikan jasa layanan profesi, jika ingin dipercaya dan dihormati secara profesional, memang harus diupayakan optimalisasinya secara militan. Hasil terbaik biasanya hanya didapat dari upaya-upaya militan. Serius, fokus, sungguh-sungguh, terus berbenah, dan terus mencari feedback untuk bertumbuh.
Yang sering membuat sebuah layanan profesi tidak bertumbuh, di antaranya:
- Tidak punya visi doing and giving the optimized service.
- Sudah merasa keren dan cukup.
- Terlalu percaya diri dengan produk.
- Tidak berupaya mencari masukan-masukan penting.
- Kurang militan dalam berbenah.
Jika secara produk mungkin belum sempurna, namun bila orang melihat upaya ”ngotot” kita dalam tekad menyuguhkan layanan terbaik, dan komunikasi kita yang berusaha mengutamakan dan mendengarkan mereka, itu bisa jadi nilai positif dalam hal reputasi. Ini bisa disebut ”not perfect yet, but still reputable in another way”.
More than Excellent
Kompetensi adalah potensi yang jadi kemahiran tertentu. Dengan gabungan ilmu, pengalaman, masukan-masukan, dan lainnya. Makin keren taburan ilmu, jam terbang, proses pengalaman, dan kreativitas yang terus digali akan bisa menjadi MoTE (more than excellent).
Nah, bagaimana membangun reputasi dari kompetensi profesi?
Tekun berproses untuk optimizing competency.
Mau membantu atau membagikan kompetensi kita kepada yang memerlukan, bukan melulu menjual. Jadikan diri sebagai bagian dari masyarakat sosial.
Biarkan masyarakat melihat upaya kita untuk memberikan yang terunggul.
Mau berkomunikasi terbuka dengan sikap kooperatif dan ramah.
Jadikan kritik atau masukan positif sebagai vitamin untuk terus bertumbuh. (*)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
