
Ilustrasi harga Bitcoin yang terus meroket naik. (Dhimas Ginanjar/Dall-E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Optimisme besar kembali menyelimuti pasar Kripto. Analis institusi keuangan memperkirakan Bitcoin dapat melonjak ke USD 175.000 atau sekitar Rp 2,89 miliar dalam 12 bulan mendatang.
Prediksi ini muncul di tengah meningkatnya permintaan institusional, ekspansi pasokan uang global, dan adopsi dompet digital yang terus tumbuh pesat.
Dikutip JawaPos.com, Rabu (22/10), lembaga jasa keuangan Siebert Financial (Nasdaq: SIEB) merilis laporan riset yang memperkirakan harga Bitcoin bisa mencapai USD 175.000 dalam setahun.
Laporan yang ditulis oleh analis riset Brian Vieten tersebut menggunakan model tiga faktor untuk menghitung proyeksi harga, dengan mempertimbangkan pertumbuhan pasokan uang, adopsi jaringan, dan dinamika permintaan Bitcoin.
Vieten menjelaskan bahwa model proyeksi tersebut mempertimbangkan tiga variabel utama. Pertama, kenaikan 7% pada pasokan uang global, yang menurut Siebert akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan dan menguntungkan aset penyimpan nilai seperti emas, saham, dan Kripto.
Kedua, ekspansi 25% jumlah dompet digital yang didorong oleh peningkatan penggunaan stablecoin dan tokenisasi aset. Ketiga, kenaikan 20% permintaan Bitcoin, meskipun masih sekitar 60% di bawah puncaknya pada 2021.
“Kami memulai liputan aset digital dengan target harga Bitcoin di USD 175.000 berdasarkan model tiga faktor kami,” ujar Vieten dalam laporan tersebut.
Ia menambahkan, “Dengan latar belakang ini, kami memperkirakan investasi di ruang aset digital akan mengalami percepatan selama 12 bulan ke depan.”
Dalam laporannya, Vieten menegaskan peran sentral Bitcoin di ekosistem aset digital. “Kami menganggap Bitcoin sebagai aset digital ‘genesis’ dan barometer industri, mewakili sekitar 60% dari total kapitalisasi pasar,” tulisnya.
Vieten juga menyampaikan keyakinannya bahwa teknologi blockchain akan menjadi tulang punggung sistem keuangan global di masa depan. “Kami percaya bahwa suatu hari nanti, blockchain akan menggerakkan hampir seluruh sistem keuangan dunia bagi 8 miliar orang,” ujarnya.
Saat ini, terdapat sekitar 700 juta dompet aset digital di seluruh dunia. “Angka ini menunjukkan bahwa kita baru mencapai kurang dari 10% dari total potensi adopsi industri,” jelas Vieten.
Siebert Financial menilai Amerika Serikat kini berada di ambang adopsi besar-besaran aset digital, terutama di bidang tokenisasi dan stablecoin. Perubahan iklim regulasi yang semakin positif di negara tersebut diyakini akan mempercepat pertumbuhan industri.
“Kami percaya Amerika Serikat berada di ambang adopsi luas aset digital, didorong oleh regulasi yang makin jelas dan dukungan pemerintah terhadap inovasi blockchain,” tulis Siebert.
Perusahaan itu memperkirakan jumlah dompet digital akan meningkat hingga mendekati 1 miliar dalam 12 bulan ke depan, seiring meningkatnya kepercayaan investor dan kemajuan regulasi.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
