Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Oktober 2025 | 03.15 WIB

Bitcoin Cetak Rekor Tertinggi Baru di Tengah Krisis Politik AS, Ini Penjelasan Analis

Ilustrasi bitcoin mata uang kripto (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi bitcoin mata uang kripto (Dok. Freepik)

JawaPos.com-Harga Bitcoin dilaporkan menembus level tertinggi sepanjang masa di tengah kebuntuan anggaran pemerintah AS dan potensi pelonggaran kebijakan moneter. Di tengah kebuntuan politik di Washington, D.C., Bitcoin kembali menunjukkan ketangguhan. 

Aset kripto terbesar di dunia itu menembus level USD 125.000 pada perdagangan Minggu (5/10), mencetak rekor tertinggi baru (all-time high/ATH) dalam siklus bullish saat ini. Hingga Senin (6/10) pagi, harga Bitcoin masih bertahan di atas USD 123.000, naik lebih dari 10 persen dalam sepekan terakhir.

Menurut Fahmi Almuttaqin, analis dari platform investasi aset digital Reku, lonjakan harga ini bukan kebetulan. Dia menilai arus dana besar-besaran ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat menjadi salah satu pendorong utama reli ini.

“Dalam tiga hari perdagangan antara 1–3 Oktober, dana masuk ke ETF Bitcoin spot mencapai lebih dari US$2,28 miliar. Artinya, investor tradisional AS melakukan pembelian bersih rata-rata lebih dari USD 762 juta per hari,” jelas Fahmi.

Reli di Tengah Shutdown Pemerintah AS

Menariknya, reli harga Bitcoin ini terjadi saat pemerintah federal AS sedang shutdown dan memasuki minggu kedua. Banyak lembaga pemerintahan tutup, rilis data ekonomi tertunda, dan ketidakpastian fiskal meningkat. Namun, justru kondisi ini dinilai sebagian investor sebagai peluang.

Shutdown membuat The Fed berpotensi menahan diri dari kebijakan ketat lebih lama. Investor melihatnya sebagai sinyal likuiditas positif,” kata Fahmi.

Dampaknya tak hanya dirasakan di pasar kripto. Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga mencatatkan kenaikan masing-masing 1,1 dan 1,3 persen dalam sepekan terakhir, menjadi reli keempat dari lima pekan terakhir. 

Pekan ini, investor juga menanti hasil laporan keuangan kuartal III dari perusahaan besar seperti PepsiCo, Delta Air Lines, dan Levi Strauss. Meski euforia pasar masih terasa, Fahmi mengingatkan adanya risiko mispricing, karena tidak adanya rilis data ekonomi resmi.

“Tanpa data aktual, pasar bisa terlalu optimistis. Jika data ketenagakerjaan nanti menunjukkan pelemahan atau inflasi naik tajam, aksi ambil untung bisa melonjak, terutama di saham teknologi,” ujar Fahmi.

Menurut dia, shutdown berkepanjangan juga bisa menekan likuiditas jika berdampak pada pemutusan kerja massal sektor publik. Namun sejauh ini, pasar masih didominasi optimisme jangka pendek.

Analisis JPMorgan bahkan memproyeksikan Bitcoin masih bisa naik hingga 40 persen lagi menuju US$165.000, berdasar perbandingan volatilitas terhadap emas.

“Namun jika arus dana melemah atau inflasi naik di atas ekspektasi, Bitcoin bisa berbalik arah. Level psikologis di USD 100.000 akan menjadi batas penting yang harus dijaga,” tambah Fahmi.

Di tengah volatilitas pasar, strategi diversifikasi dinilai penting bagi investor, terutama pemula. Fahmi menilai pendekatan Dollar Cost Averaging (DCA) dan diversifikasi lintas aset bisa menjadi strategi aman.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore