Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 September 2025 | 17.02 WIB

Institusi Keuangan AS Siap Borong Bitcoin, Bisa Dorong Harga BTC Tembus Rp 2 Miliar?

Ilustrasi bitcoin yang sedang

JawaPos.com – Arus dana institusi ke Bitcoin diprediksi akan melonjak tajam dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini disampaikan oleh Jordi Visser, veteran Wall Street yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan investasi Weiss Multi-Strategy Advisers. Menurut dia, banyak manajer aset di Amerika Serikat yang bersiap menambah alokasi Bitcoin dalam portofolionya menjelang tutup tahun.

"Beberapa manajer akan mulai dari langkah kecil, tapi sebagian lainnya mungkin akan mengalihkan porsi lebih besar ke BTC," kata Visser dalam pernyataannya yang dikutip dari Bitcoinist, Selasa (16/9).

Optimisme Visser juga diperkuat oleh hasil survei bersama yang dilakukan Coinbase dan EY-Parthenon terhadap pelaku keuangan institusional. Hasilnya, 83 persen responden menyatakan akan menambah eksposur ke aset kripto pada 2025, dan 59 persen di antaranya siap menaruh lebih dari 5 persen aset kelolaan mereka ke kripto atau produk turunannya.

Survei ini menjadi indikator kuat bahwa dunia keuangan tradisional (TradFi) semakin serius menempatkan kripto, khususnya Bitcoin, dalam strategi investasi jangka panjang mereka.

Namun, Bitcoinist juga mengingatkan bahwa niat tidak selalu berujung aksi nyata. Berbagai faktor seperti perubahan kebijakan regulasi, gejolak pasar, atau tekanan makroekonomi bisa membuat para institusi menunda langkahnya.

Salah satu jalur yang memudahkan investor institusional untuk masuk ke pasar Bitcoin adalah melalui produk Exchange Traded Fund (ETF) berbasis spot. Sepanjang tahun ini, ETF Bitcoin telah menarik inflow besar dari pasar.

Data mencatat, inflow bersih ETF Bitcoin sempat mencapai USD 642 juta atau sekitar Rp 10,5 triliun hanya dalam satu hari perdagangan. Secara kumulatif, total inflow bersih sejak ETF spot diluncurkan sudah menyentuh USD 57 miliar atau sekitar Rp 938 triliun, mengangkat total nilai aset ETF Bitcoin menjadi sekitar USD 153 miliar atau Rp 2.514 triliun.

“ETF mengubah permainan. Produk ini memberi kenyamanan bagi institusi untuk masuk ke kripto tanpa harus repot menyimpan langsung aset digitalnya,” jelas laporan tersebut.

Selain lembaga keuangan, perusahaan publik dan swasta pun ikut menambah eksposur terhadap Bitcoin. Menurut pelacak data keuangan, total nilai kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan publik saat ini mencapai USD 112 miliar atau setara Rp 1.842 triliun.

Perusahaan seperti MicroStrategy yang dipimpin Michael Saylor menjadi contoh bagaimana satu entitas bisa konsisten menambah kepemilikan BTC secara agresif, bahkan menjadikannya strategi utama dalam neraca keuangan.

Aksi pembelian seperti ini kerap menjadi sorotan media dan bisa menjadi katalis positif bagi sentimen pasar.

Dengan semua data dan rencana yang beredar, kuartal keempat (Q4) 2025 menjadi periode yang patut diawasi. Jika para institusi benar-benar bergerak sesuai rencana, permintaan terhadap Bitcoin bisa melonjak signifikan dan menjadi penopang harga di tengah ketidakpastian global.

Namun, investor tetap perlu bersiap menghadapi volatilitas khas pasar kripto. Faktor-faktor seperti perubahan kebijakan moneter, suku bunga, atau tekanan likuiditas bisa membalik keadaan dalam waktu singkat.

Intinya, sinyal dari dunia keuangan tradisional menunjukkan arah yang jelas: Bitcoin semakin diterima sebagai aset serius dalam portofolio institusi. Eksekusi strategi ini masih bergantung pada berbagai dinamika pasar, tetapi jalannya tampaknya mulai terbuka lebar.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore