Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 September 2025 | 19.58 WIB

Lawan Tren Red September, Bitcoin Bisa Tembus Rp 2 Miliar, Ethereum Rp 98 Juta

Ilustrasi Red September yang identik dengan turunnya harga Bitcoin maupun kripto secara umum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – September dikenal sebagai bulan suram bagi pasar kripto, namun tahun ini Bitcoin dan Ethereum justru berhasil melawan kutukan tersebut. Dikutip dari Decrypt, Senin (15/9), harga Bitcoin tercatat naik 6 persen sejak awal bulan, sementara Ethereum menguat 4 persen. Para analis menilai, reli ini baru setengah jalan.

Kepala riset platform opsi Derive, Sean Dawson, menegaskan bahwa masih ada ruang untuk reli lanjutan menjelang akhir tahun, meskipun volatilitas diprediksi meningkat di paruh kedua bulan September.

"Ada spekulasi bahwa kita sudah mencapai puncak siklus, tapi saya tidak melihat itu terjadi sekarang," ujarnya.

Berdasarkan data CoinGecko, Bitcoin sempat menyentuh harga tertinggi akhir pekan lalu di USD 116.245 atau sekitar Rp 1,91 miliar, sebelum sedikit terkoreksi ke USD 114.770 atau Rp 1,88 miliar pada Sabtu (14/9) malam.

Sementara Ethereum berada di kisaran USD 4.667 atau Rp 76 juta. Meski harga sempat stagnan, analis menilai faktor eksternal seperti tekanan dari pasar obligasi dan net asset value beberapa produk investasi berbasis ETH berpotensi mendorong aksi jual dalam jangka pendek.

Optimisme para investor bukan tanpa dasar. Data pasar derivatif menunjukkan bahwa posisi call option Bitcoin, alias taruhan harga naik, jauh mengungguli posisi put (taruhan harga turun), dengan rasio hampir 2,5 banding 1. Ini menandakan ekspektasi kuat bahwa harga BTC akan terus naik menjelang akhir tahun.

Khusus untuk Bitcoin, pasar menilai ada peluang sebesar 37 persen bahwa harga akan menembus USD 125.000 atau sekitar Rp 2,05 miliar pada akhir 2025. Untuk Ethereum, probabilitasnya sekitar 40 persen untuk mencapai harga di atas USD 5.000 (Rp 82 juta) dan 20 persen untuk menembus USD 6.000 (Rp 98 juta).

Sentimen positif ini turut diperkuat oleh harapan pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed. Dawson menyebutkan bahwa data dari platform prediksi Polymarket menunjukkan probabilitas terjadinya tiga kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed sebelum akhir 2025 naik tajam dari 22 persen menjadi 49 persen dalam dua minggu terakhir.

Bahkan, peluang pemangkasan hingga empat kali (setara 1 persen) kini telah menembus 10 persen, sesuatu yang biasanya menjadi angin segar bagi aset berisiko tinggi seperti kripto.

“Tren makro kini sangat mendukung,” kata Dawson, menegaskan bahwa investor semakin nyaman untuk masuk ke kripto karena potensi imbal hasil yang tinggi dan perlambatan kebijakan moneter yang ketat.

Secara historis, September kerap menjadi bulan yang ''dingin'' bagi kripto. Tekanan dari akhir tahun fiskal Amerika Serikat, serta aksi ambil untung oleh investor institusi, sering memicu penurunan harga. Namun sejauh ini, Bitcoin dan Ethereum justru mencetak pertumbuhan positif, mematahkan pola lama.

Meski demikian, Dawson memperingatkan bahwa potensi koreksi jangka pendek tetap terbuka lebar, terutama menjelang pengujung September. "Masih akan ada rasa sakit jangka pendek, tapi kita baru di tengah jalan menuju reli kuartal empat," jelasnya.

Dengan Bitcoin yang masih bertahan di atas USD 110.000 (Rp 1,78 miliar) dan Ethereum di kisaran USD 4.600 (Rp 74 juta), para investor kini mulai bersiap menghadapi penutupan tahun yang bisa menjadi katalis besar berikutnya bagi pasar kripto.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore