Ilustrasi Solana. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Di tengah pergerakan pasar kripto yang relatif datar, aset Solana (SOL) justru mencuri perhatian. Volume open interest (OI) untuk kontrak perpetual futures Solana dilaporkan menembus USD 7 miliar atau setara Rp 115 triliun (kurs USD 1 = Rp 16.450), menandakan lonjakan tajam partisipasi spekulatif di pasar derivatif SOL.
Data ini diungkap oleh firma analitik on-chain Glassnode dan menunjukkan bahwa lonjakan OI terjadi seiring harga Solana yang melampaui USD 224 atau sekitar Rp 3,68 juta, naik hampir 7 persen hanya dalam sepekan terakhir.
Open interest mencerminkan total nilai posisi long dan short yang terbuka di pasar derivatif, dan kenaikan signifikan biasanya mengindikasikan peningkatan aktivitas serta minat investor terhadap aset tersebut. Dalam konteks ini, Glassnode menyebut bahwa “partisipasi pasar jelas meningkat,” dan ini menjadi bukti bahwa Solana sedang menjadi pusat perhatian pelaku pasar.
Namun, tingginya open interest bukan tanpa risiko. Semakin besar posisi terbuka, terutama jika melibatkan leverage tinggi, maka potensi terjadinya liquidation squeeze juga semakin besar—yaitu kondisi ketika banyak posisi dipaksa ditutup karena margin tidak cukup, yang bisa memicu volatilitas tajam, baik naik maupun turun.
Untuk melihat sisi mana yang lebih dominan, bullish atau bearish, indikator funding rate bisa menjadi petunjuk. Funding rate adalah biaya periodik yang dibayarkan antar trader di kontrak perpetual futures.
Jika nilainya positif, artinya trader long membayar trader short, tanda bahwa mayoritas pelaku pasar optimistis. Jika negatif, berarti tekanan jual mendominasi.
Menariknya, meski open interest melonjak tajam, funding rate Solana tetap datar dan tidak menunjukkan peningkatan berarti. Ini berarti baik posisi long maupun short masuk ke pasar dalam porsi seimbang.
Glassnode menyebut kondisi ini sebagai “tidak terlalu ter-leverage,” alias pasar belum terlalu jenuh oleh spekulasi berisiko tinggi. Hal ini membuka ruang bagi reli harga lanjutan jika momentum tetap terjaga.
“Ini memberi ruang bagi upside lebih lanjut jika tren saat ini bertahan,” jelas Glassnode, Kamis (11/9).
Dengan kata lain, pasar derivatif Solana sedang mengalami peningkatan volume besar, tapi tidak disertai lonjakan ekstrem dalam leverage. Ini situasi langka yang bisa menjadi bahan bakar untuk reli sehat, asalkan tidak berubah arah menjadi euforia berlebihan yang memicu koreksi.
Kenaikan harga Solana juga menjadi kontras terhadap kondisi pasar kripto secara umum yang cenderung stagnan dalam beberapa hari terakhir. Sementara Bitcoin masih tertahan di sekitar USD 26.000–27.000 (Rp 427 juta–Rp 443 juta), Solana justru menjadi outperformer di antara aset utama.
Jika tren ini berlanjut, Solana bisa menjadi katalis penting dalam pasar altcoin selama September ini. Namun, para trader juga diingatkan untuk tetap waspada terhadap potensi pembalikan mendadak, terutama jika funding rate mulai naik tajam atau OI menunjukkan ketimpangan antara long dan short.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Swedia dan Tunisia di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Der Panzer Siap Menggila di Laga Perdana
MUI Minta Pelaku dan Pengkampanye LGBTQ Bisa Dipidana, Lebih Berat dari Pasal Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Skor Haiti vs Skotlandia di Piala Dunia 2026: The Tartan Army Bisa Menang Besar!
