Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 16.44 WIB

Whale Jual 115.000 Bitcoin, Akankah Harga BTC Ambruk Lagi?

Ilustrasi whale bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Aksi jual besar-besaran kembali mengguncang pasar Bitcoin. Berdasarkan data on-chain yang dikutip dari Bitcoinist, Selasa (9/9), para whale dilaporkan telah membuang antara 112.000 hingga 115.000 BTC sepanjang Agustus 2025.

Nilai total penjualan tersebut setara dengan USD 12,7 miliar atau sekitar Rp 209 triliun (kurs Rp 16.450 per USD), menjadikannya sebagai distribusi terbesar sejak Juli 2022.

Para whale yang menjual itu adalah pemegang besar yang memiliki antara 1.000 hingga 10.000 BTC. Mereka sebelumnya sempat mengakumulasi lebih dari 270.000 BTC sejak April hingga Agustus, namun kini berbalik arah dengan melepaskan pasokan besar ke pasar.

Tekanan jual ini membuat harga Bitcoin turun di bawah USD 109.000 atau Rp 1,79 miliar, mencatat penurunan 5,5 persen secara bulanan dan memutus tren positif selama empat bulan berturut-turut.

Meskipun aksi jual whale masih menjadi perhatian utama, beberapa sinyal menunjukkan tekanan jual mulai mereda. Pergerakan BTC oleh whale mencapai puncaknya pada Selasa (3/9), dengan lebih dari 95.000 BTC berpindah tangan hanya dalam sepekan—angka terbesar sejak Maret 2021.

Namun per Jumat (6/9), volume mingguan turun drastis menjadi sekitar 38.000 BTC, menandakan adanya potensi stabilisasi pasar. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan dalam kisaran sempit antara USD 111.700 hingga USD 112.000, atau sekitar Rp 1,84 miliar.

Meski begitu, analis memperingatkan potensi pola teknikal “head and shoulders” yang bisa memicu koreksi tajam berikutnya. Ada pula celah harga (Fair Value Gap/FVG) di area USD 114.000 (sekitar Rp 1,87 miliar) yang belum tertutup. Jika harga gagal menembus zona resistensi ini, Bitcoin bisa kembali tertekan menuju level USD 106.000 atau sekitar Rp 1,74 miliar.

Menariknya, di saat para whale memilih untuk menguangkan keuntungan, para investor institusi justru bergerak sebaliknya. Aksi pembelian oleh perusahaan dan arus masuk dana ETF disebut sebagai "penyeimbang struktural" terhadap aksi jual besar tersebut.

Salah satu contoh datang dari perusahaan Jepang, Metaplanet Inc., yang baru saja menambah 136 BTC ke cadangan perusahaannya. Kini mereka telah memiliki lebih dari 20.000 BTC dalam portofolionya. Dengan nilai saat ini, itu setara dengan kepemilikan lebih dari Rp 32,9 triliun.

Menurut Nick Ruck, Direktur di LVRG Research, permintaan dari ETF dan institusi besar dapat membantu menjaga harga Bitcoin tetap stabil, meskipun aksi jual dari whale masih berlangsung.

“Tekanan jual besar dari whale bisa diimbangi oleh permintaan institusi yang kuat, khususnya lewat ETF dan treasury korporat,” ujar Ruck.

Meski demikian, arah pasar dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada kebijakan makroekonomi. Perhatian utama kini tertuju pada pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan Selasa (17/9) mendatang. Keputusan terkait suku bunga akan menjadi penentu utama bagi likuiditas di pasar aset berisiko seperti kripto.

Hingga saat ini, Bitcoin masih tercatat turun sekitar 11 persen dari level tertingginya pertengahan Agustus yang sempat menyentuh USD 124.000 atau Rp 2,04 miliar. Pertanyaannya, apakah permintaan dari institusi cukup kuat untuk menahan laju penurunan, atau pasar masih harus bersiap menghadapi Red September yang lebih dalam?

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore