
Ilustrasi bitcoin yang sedang
JawaPos.com – Setelah sempat mencetak rekor tertinggi di atas USD 123.000 atau sekitar Rp 2 triliun, kini Bitcoin memasuki fase kritis. Harga sang raja kripto terpantau anjlok ke level USD 110.000 atau sekitar Rp 1,78 miliar, dan terus berada di bawah tekanan jual sejak pertengahan Agustus.
Grafik pergerakan harian menunjukkan pola yang mengkhawatirkan: serangkaian lower high dan lower low mempertegas bahwa momentum sedang melemah.
Garis MA (moving average) 50 hari di USD 116.500 atau sekitar Rp 1,89 miliar kini menjadi batas atas yang sulit ditembus. Sementara itu, garis MA 100 hari di kisaran USD 111.700 atau Rp 1,82 miliar menjadi penopang jangka pendek yang terus diuji.
Menurut laporan Bitcoinist, Sabtu (30/8), USD 110.000 atau sekitar Rp 1,78 miliar menjadi level kunci. Jika harga Bitcoin gagal bertahan di atas zona ini, potensi koreksi lebih dalam terbuka lebar, dengan support berikutnya di USD 106.000–108.000 atau Rp 1,72–1,75 miliar.
Garis pertahanan terakhir jangka panjang disebut berada di USD 101.100 atau sekitar Rp 1,64 miliar, yang merupakan MA 200 harian.
Namun, untuk bisa kembali bullish, Bitcoin perlu merebut kembali level USD 115.000 atau Rp 1,87 miliar. Itu akan membuka peluang menguji kembali resistance kuat di zona USD 120.000–123.000 atau Rp 1,95–2 triliun.
Lebih dalam dari sisi fundamental, analis dari CryptoQuant mengungkap bahwa siklus pasar kripto saat ini sedang mengalami perlambatan. Tidak seperti siklus sebelumnya yang naik tajam dalam waktu singkat, saat ini tren terlihat datar dan memanjang. Ini mengindikasikan adanya perubahan struktural besar dalam pasar.
“Siklus kali ini lebih panjang karena banyak faktor baru yang mengubah ritme, salah satunya adalah kehadiran spot ETF dan keterlibatan institusi besar,” kata analis bernama Dan, dikutip dari Bitcoinist.
Salah satu indikator yang digunakan Dan adalah realized market cap dari Bitcoin yang sudah disimpan lebih dari satu tahun. Dalam dua siklus sebelumnya, metrik ini meningkat tajam, namun sekarang pertumbuhannya lebih lambat, menggambarkan fase akumulasi yang lebih panjang dan cenderung berhati-hati.
Institusi besar hingga beberapa negara mulai masuk ke pasar kripto, dan itu menciptakan kondisi yang lebih matang, namun sekaligus lebih lambat dalam pergerakan harga. Selain itu, rotasi modal dari Bitcoin ke altcoin juga turut melemahkan momentum kenaikan BTC. Setiap kali altcoin menguat, Bitcoin justru tertahan.
“Tidak seperti 2023–2024 ketika dominasi Bitcoin begitu kuat, kini dana mulai berpindah ke aset lain,” tulis laporan itu.
Meski tampak stagnan, analis melihat ada peluang optimisme baru jelang akhir tahun. Rencana pemangkasan suku bunga di September dan potensi ETF altcoin disetujui pada Oktober bisa menjadi katalis baru untuk kebangkitan pasar di musim gugur dan musim dingin 2025.
Dalam pandangan jangka panjang, fase konsolidasi ini mungkin justru memberi ruang bagi investor untuk masuk di harga yang lebih menarik sebelum siklus berikutnya dimulai.
“Pasar sedang menyusun napas,” simpul laporan tersebut. “Siapa tahu, setelahnya, lonjakan besar akan kembali terjadi.”

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
