Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Agustus 2025 | 19.35 WIB

Ethereum Disebut Lebih Unggul dari Bitcoin sebagai Penyimpan Nilai Masa Depan

Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Bitcoin mungkin masih mendominasi pasar kripto hari ini, namun sejumlah lembaga keuangan global mulai berpaling ke Ethereum (ETH) sebagai aset masa depan. Dua raksasa keuangan dunia, VanEck dan Standard Chartered, kompak menyebut Ethereum berpotensi menjadi penyimpan nilai (store of value) yang lebih unggul dari Bitcoin, terutama berkat fitur staking dan inflasi yang sangat rendah.

Dikutip dari Bitcoinist, Kamis (7/8), VanEck dalam laporan bulanan mereka edisi Juli 2025 menyatakan bahwa Ethereum kini lebih menarik untuk dimiliki oleh institusi karena tidak hanya deflasi, tetapi juga produktif. “Pemegang ETH bisa mendapat imbal hasil dari staking, ikut dalam DeFi, dan memperoleh pendapatan jaringan,” tulis VanEck.

Laporan itu juga membandingkan kebijakan moneter antara dua jaringan besar kripto tersebut. Ethereum pernah memiliki tingkat inflasi awal 14,4 persen, lebih tinggi dari Bitcoin yang hanya 9,3 persen. Namun, dua perubahan besar telah mengubah arah.

Pertama adalah proposal EIP-1559 pada Agustus 2021, yang memperkenalkan sistem burning terhadap sebagian biaya transaksi, menciptakan tekanan deflasi. Kedua, peralihan ke sistem Proof-of-Stake lewat The Merge pada September 2022 yang memangkas suplai baru dari 13.000 ETH menjadi hanya sekitar 1.700 ETH per hari.

Akibatnya, tingkat inflasi Ethereum saat ini jauh di bawah Bitcoin. Dari Maret 2023, total suplai ETH hanya naik 0,2 persen, sedangkan BTC naik 3 persen. Pada periode 7 Oktober 2022 hingga 4 April 2024, suplai ETH bahkan sempat turun dari 120,6 juta menjadi 120,1 juta, mencatat inflasi tahunan negatif sebesar -0,25 persen.

VanEck menilai tren ini akan mendorong perusahaan-perusahaan global untuk tak hanya mengoleksi Bitcoin, tetapi juga menjadikan Ethereum sebagai bagian dari strategi keuangan mereka.

Standard Chartered Pilih Perusahaan Ethereum Dibanding ETF

Dukungan terhadap Ethereum juga datang dari Geoff Kendrick, Kepala Riset Aset Digital di Standard Chartered. Ia secara terbuka menyatakan bahwa perusahaan publik yang menyimpan Ethereum—disebut Ethereum treasury companies—kini menawarkan potensi lebih baik dibanding produk ETF spot Ethereum di Amerika Serikat.

Menurut Kendrick, perusahaan seperti SharpLink Gaming (SBET) telah membeli ETH dalam jumlah besar, bahkan setara dengan pembelian yang dilakukan oleh ETF selama dua bulan terakhir. “Perusahaan-perusahaan ini memberikan eksposur langsung ke ETH, ditambah imbal hasil dari staking. Itu lebih menguntungkan daripada ETF,” kata Kendrick.

Ia juga menambahkan bahwa rasio nilai aset bersih (NAV multiple) perusahaan-perusahaan ini telah mendekati 1.0, yang artinya harga saham mereka sesuai dengan nilai ETH yang dimiliki. “Saya tak melihat alasan NAV multiple bisa turun di bawah 1.0. Ini menunjukkan efisiensi dan peluang regulasi yang lebih fleksibel,” tambahnya.

Data terbaru mencatat bahwa lebih dari 2 juta ETH telah dikumpulkan oleh perusahaan-perusahaan treasury ETH, dengan SharpLink menambah 50.000 ETH bulan lalu. Totalnya kini mencapai lebih dari 255.000 ETH untuk perusahaan tersebut saja.

Sementara itu, ETF Ethereum justru mengalami gejolak. Setelah mencatat arus masuk sebesar USD 5,4 miliar pada Juli, ETF spot ETH mencatat arus keluar signifikan pada 1 dan 4 Agustus, masing-masing sebesar USD 152 juta dan USD 465 juta. BlackRock jadi penyumbang terbesar dengan arus keluar USD 375 juta.

Meski demikian, pasar sempat pulih pada 5 Agustus dengan masuknya dana USD 73 juta ke ETF. SEC juga baru-baru ini menyetujui mekanisme in-kind redemption agar ETF kripto lebih efisien seperti ETF komoditas lainnya.

Dengan ETH kini diperdagangkan di angka USD 3.643 atau sekitar Rp 59,4 juta (kurs USD 1 = Rp 16.300), para analis melihat prospek Ethereum semakin solid untuk menjadi aset institusional yang tak kalah dari Bitcoin. Laporan keuangan kuartal kedua SharpLink pada 15 Agustus mendatang disebut akan menjadi indikator penting dalam validasi pergeseran tren ini.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore